FOREWORD

Indonesia is still in a transition period, and is facing various problems and barriers when it comes to human rights enforcement. On the one hand, there is still not full harmonization between the national legal system and international human rights instruments. On the other, there is also an inadequate understanding of what human rights are and how they can be upheld among many segments of the society.

In such situation, promotion of human rights not only requires the government’s attention, but also that of civil society including universities. Universities have a particularly strategic and crucial role in developing the human rights discourse and disseminating a conception of human rights that is consistent with both “rechtsstaat” principles, national and local cultural values, as well as international human rights standards.

Center for Human Rights Studies of the Islamic University of Indonesia is founded to play such a role, and seeks to disseminate human rights through various approaches. This website will provide you with the complete features of the institution.

07 November 2015

onstitusi Republik Indonesia secara tegas menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum.

10 Oktober 2015

emerintah Indonesia telah melakukan ratifikasi atas Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Penyandang Disabilitas (United Nation Convention on the Rights of Persons With Disabilities) melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1999.

10 Juni 2015

Berbagai persoalan hukum di Indonesia menunjukkan bahwa sistem hukum belum bekerja dengan  baik.

31 Mei 2015

Pemerintah Indonesia telah melakukan ratifikasi atas Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Penyandang Disabilitas (United Nation Convention on the Rights of Persons With Disabilities) melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1999.

30 Maret 2015

Pemerintah Indonesia telah melakukan ratifikasi atas Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Penyandang Disabilitas (United Nation Convention on the Rights of Persons With Disabilities) melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1999.

02 Januari 2015

Pelatihan HAM kali ini adalah pelatihan lanjutan bagi para Dosen yang sudah mendapatkan training HAM selama 5 kali sebelumnya, sehingga mereka dapat dibilang sudah mahir dalam hal ilmu pengetahuan tentang HAM.  Ini adalah merupakan training terakhir bagi mereka dengan harapan mereka dapat menggunakan ilmu-ilmu yang diperoleh dari pelatihan  sebelumnya sebagai bekal untuk menganalisis materi dalam training HAM kali ini.

ENGLISH
go to english page
PENELITIAN
daftar penelitian PUSHAM UII
PERPUSTAKAAN
daftar buku koleksi PUSHAM UII
NEWSLETTER & COMIC
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
CATATAN PINGGIR
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
11 Agustus 2015

Saat Lahir,
BISAKAH KITA MEMILIH
Apa Agama Kita

Untuk orang yang saat ini sedang duduk dan kesakitan di luar sana, jika saya ingin meringkas apa yang dapat mereka lakukan dalam hidup, saya akan meringkasnya dalam enam kata, “Manusia mewujud seperti apa yang dipikirkannya.”
(Mooris Goodman)

Oleh: Puguh Windrawan

Saya jadi ingat tulisan Jeffrey Lang pada sebuah buku yang inspiratif. Bukan karena semata-mata ia menjadi muslim. Tetapi, lebih kepada bagaimana ia berusaha mencari apa yang ia yakini. Kebetulan ia adalah seorang professor di sebuah perguruan tinggi di Amerika. Setidaknya, ketika saya membaca buku itu, Prof. Lang masih menjadi Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Amerika. Saya merasa, bagian paling menarik dari pengalaman Prof. Lang adalah ketika suatu saat, ia sedang berjalan dengan Jameela, putrinya yang masih kecil. Kemudian terjadilah dialog diantara mereka.

Intinya, Jameela ingin bertanya kepada ayahya. Bagaimana seandainya ia kemudian berpindah agama, dari semula muslim ke Kristen? Sebagai penganut Islam, tentu saja Prof. Lang terperanjat. Alasan Jameelah, sebagai seorang anak kecil sangat sederhana. Ia merasa berat dengan apa yang harus dijalankan untuk menjadi kewajiban seorang muslim. Bahkan ia bertanya kepada ayahnya. “Aku sekedar ingin tahu, apakah Ayah akan marah padaku. Apakah nenek dan kakek memarahi ayah ketika engkau keluar dari agama Kristen dan kemudian memeluk Islam?”

News
11 Agustus 2015
AKARTA - Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2015 mendatang menjadi berkah bagi penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas).
06 Agustus 2015
iputan6.com, Jakarta - Majelis hakim Komisi Informasi Pusat (KIP) menolak permohonan informasi publik yang diajukan para pegiat hak asasi manusia (HAM) yang terdiri dari beberapa LSM yaitu, Kontras, Imparsial dan Setara Institute ‎kepada Pejabat Pengelol
06 Agustus 2015
iputan6.com, Jakarta - Sosok Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sapaan Gus Dur 1kadijadikan contoh sebagai salah satu sosok pemimpin yang patut ditiru. Gus Dur berani menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM),
06 Agustus 2015
iputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo berkomiten menyelesaikan masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), terutama kasus-kasus pelanggaran berat.