{"id":6786,"date":"2026-09-12T13:02:45","date_gmt":"2026-09-12T06:02:45","guid":{"rendered":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/?p=6786"},"modified":"2026-09-29T13:12:29","modified_gmt":"2026-09-29T06:12:29","slug":"tolak-pembahasan-ruu-ham-yang-terburu-buru-pusham-uii-sebut-aturan-hanya-untungkan-elite-kekuasaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/tolak-pembahasan-ruu-ham-yang-terburu-buru-pusham-uii-sebut-aturan-hanya-untungkan-elite-kekuasaan\/","title":{"rendered":"Tolak Pembahasan RUU HAM yang Terburu-buru, Pusham UII Sebut Aturan Hanya Untungkan Elite Kekuasaan"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">TRIBUNJOGJA.COM &#8211; Pusat Studi <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/hak-asasi-manusia\">Hak\u00a0Asasi\u00a0Manusia<\/a> Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menunda pembahasan Rancangan Undang-Undang <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/hak-asasi-manusia\">Hak\u00a0Asasi\u00a0Manusia<\/a> (RUU <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Penyusunan draf tertutup, abaikan partisipasi publik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Desakan ini diserukan menyusul proses penyusunan draf undang-undang yang dinilai tertutup, mengabaikan partisipasi publik, dan lebih mengakomodasi kepentingan birokrasi pemerintahan ketimbang pemenuhan perlindungan <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> secara substantif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ini, <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> diketahui telah menyelesaikan tahapan harmonisasi di Kementerian Hukum. Naskah tersebut dijadwalkan segera diserahkan ke Kementerian Sekretariat Negara untuk dicermati sebelum dibahas bersama DPR RI. Namun, publikasi naskah versi terakhir hingga kini belum dilakukan oleh negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Director <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/pusham-uii\">Pusham&nbsp;UII<\/a> Despan Heryansyah mengungkapkan bahwa kecenderungan pemerintah merahasiakan naskah <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> dari masyarakat luas mencederai hak publik untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan perumusan undang-undang. Naskah terakhir bahkan hanya bisa didapatkan melalui jalur informal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Selama ini, uji publik <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> memang telah beberapa kali dilakukan, namun keterlibatan jaringan masyarakat sipil dan perguruan tinggi yang selama ini bergelut di bidang <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> belum cukup memadai,&#8221; tegas Despan, Jumat (11\/9\/2026).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Penolakan masif dari sipil hingga komnas <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah tertutup ini beriringan dengan munculnya penolakan masif terhadap substansi <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>, yang secara ironis justru disuarakan oleh lembaga-lembaga pelaksana undang-undang tersebut. Komnas Perempuan menilai beleid ini belum komprehensif terkait kelembagaan dan perlindungan diskriminasi perempuan, Sementara Komnas <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> menolak karena beleid tersebut berpotensi melemahkan independensi dan kewenangan lembaga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penolakan serupa juga datang dari 45 lembaga organisasi masyarakat sipil pada 25 Juni 2026 lalu, yang menyoroti pembatasan hak sipil, lemahnya perlindungan pembela <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>, minimnya independensi prosedur, hingga ancaman penyelesaian pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> berat masa lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peneliti gerakan sosial dan <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/pusham-uii\">Pusham&nbsp;UII<\/a>, Heronimus Heron, menegaskan bahwa masukan tersebut krusial untuk diadopsi. &#8220;Pemerintah sebagai pemrakarsa <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> harus mendengarkan catatan kritis dan penolakan terhadap <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>, karena yang disampaikan lembaga <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> dan organisasi masyarakat sipil sangat penting bagi perbaikan norma dan perlindungan <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Isu Krusial Tidak Diakomodasi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alih-alih menyelesaikan kebuntuan hukum di Indonesia, <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> dinilai gagal mengakomodasi persoalan-persoalan mendasar. Salah satu sorotan utama adalah penyelesaian kasus pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> berat yang terus menemui jalan buntu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Despan memaparkan persoalan yang bermuara pada sumirnya hukum acara dalam undang-undang eksisting tidak tersentuh dalam revisi ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Misalnya, terkait dengan proses penyelidikan dan penyidikan pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> yang berat masa lalu. Bolak-balik berkas pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> yang berat antara Kejaksaan dan Komnas <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> yang terjadi selama bertahun-tahun belakangan ini adalah dampak dari kaburnya pengaturan hukum acara dalam UU <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> dan UU Pengadilan <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>. Termasuk bebasnya seluruh terdakwa dalam empat peristiwa pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> yang sudah diadili juga disebabkan oleh sumirnya hukum acara dalam UU,&#8221; jelas Despan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut, ia menyoroti urgensi penguatan kelembagaan yang urung direalisasikan. &#8220;Problem lain adalah lemahnya rekomendasi Komnas <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> terhadap lembaga negara lainnya, atas berbagai temuan pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> atau potensi pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> secara nasional. Padahal, aduan dan laporan masyarakat kepada Komnas <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> atas berbagai pelanggaran yang dialaminya semakin meningkat setiap tahun,&#8221; tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pembela <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> rentan dikriminalisasi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks penegakan di lapangan, ruang aman bagi para pembela <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> juga disorot kian menyempit. Hal ini berkaca pada tingginya angka kriminalisasi dalam beberapa waktu terakhir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Terdapat situasi yang semakin suram bagi pembela <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> yang sangat rentan atas kriminalisasi oleh aparat penegak hukum. Pasca-kerusuhan demo Agustus 2025 lalu, ada ratusan aktivis yang ditangkap, ditahan, dan dihukum bersalah,&#8221; papar Heronimus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Situasi penegakan <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> yang memburuk tersebut dianggap berbanding terbalik dengan arah perumusan <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Hari ini kita masih menyaksikan banyaknya pelanggaran <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> yang dialami oleh warga masyarakat. Gagalnya negara dalam pemenuhan, perlindungan, penghormatan, dan pemajuan <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> masih terus terjadi, bahkan semakin masif dan aktif. Penangkapan terhadap ratusan aktivis, pembekuan rekening bank, hingga penggusuran lahan, rumah, dan hutan bagi masyarakat marjinal, masih terus terjadi,&#8221; kecam Despan.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pusham UII: <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> condong mewadahi kepentingan elite kekuasaan<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melihat proses perumusan yang terkesan buru-buru, <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/pusham-uii\">Pusham&nbsp;UII<\/a> berpandangan bahwa <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a> lebih condong mewadahi kepentingan segelintir elite kekuasaan. <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ruu\">RUU<\/a> tersebut dinilai hanya menjadi sarana legalisasi pembentukan kelembagaan, kewenangan, dan pengalokasian anggaran untuk Kementerian <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atas dasar temuan tersebut, <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/pusham-uii\">Pusham&nbsp;UII<\/a> mendesak penghentian sementara proses legislasi menjelang tahap penggodokan internal di Sekretariat Negara dan Badan Legislasi DPR RI. Mereka menuntut dibukanya ruang diskusi substantif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal ini mencakup pelibatan aktif jaringan masyarakat sipil serta lembaga negara independen yang kelak bertugas sebagai pelaksana UU, seperti Komnas <a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/tag\/ham\">HAM<\/a>, Komnas Perempuan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta Komisi Nasional Disabilitas (KND), guna memenuhi prinsip partisipasi bermakna (meaningful participation) sebagaimana yang diamanatkan oleh Mahkamah Konstitusi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sumber :<\/strong><br><strong><em><a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/diy\/1222802\/tolak-pembahasan-ruu-ham-yang-terburu-buru-pusham-uii-sebut-aturan-hanya-untungkan-elite-kekuasaan#google_vignette\">TribunJogja.com, Jumat, 11 September 2026 <\/a><\/em><\/strong><br><br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TRIBUNJOGJA.COM &#8211; Pusat Studi Hak\u00a0Asasi\u00a0Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menunda pembahasan Rancangan Undang-Undang Hak\u00a0Asasi\u00a0Manusia (RUU HAM). Penyusunan draf tertutup, abaikan partisipasi publik Desakan ini diserukan menyusul proses penyusunan draf undang-undang yang dinilai tertutup, mengabaikan partisipasi publik, dan lebih mengakomodasi kepentingan birokrasi pemerintahan ketimbang pemenuhan perlindungan HAM &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/tolak-pembahasan-ruu-ham-yang-terburu-buru-pusham-uii-sebut-aturan-hanya-untungkan-elite-kekuasaan\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Tolak Pembahasan RUU HAM yang Terburu-buru, Pusham UII Sebut Aturan Hanya Untungkan Elite Kekuasaan<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6787,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[61,63],"tags":[],"class_list":["post-6786","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-populer"],"meta_box":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6786","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6786"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6786\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6788,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6786\/revisions\/6788"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6787"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6786"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6786"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6786"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}