{"id":5683,"date":"2009-04-01T14:48:00","date_gmt":"2009-04-01T07:48:00","guid":{"rendered":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/?post_type=mb-publikasi&#038;p=5683"},"modified":"2025-05-06T14:53:56","modified_gmt":"2025-05-06T07:53:56","slug":"sufisme-di-tengah-dilemamodernitas","status":"publish","type":"mb-publikasi","link":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/mb-publikasi\/sufisme-di-tengah-dilemamodernitas\/","title":{"rendered":"\u2018Sufisme\u2019 di Tengah DilemaModernitas"},"content":{"rendered":"<p><strong>IDENTITAS BUKU :<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"468\" height=\"596\" src=\"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/image.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5684\" srcset=\"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/image.jpeg 468w, https:\/\/pusham.uii.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/image-236x300.jpeg 236w, https:\/\/pusham.uii.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/image-9x12.jpeg 9w\" sizes=\"auto, (max-width: 468px) 100vw, 468px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Judul buku\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0: <strong><em>Urban Sufism<\/em><\/strong><br>Editor\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Martin Van Bruinessen &amp; Julia Day Howel<br>Kaya Pengantar\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0: Azyumardi Azra<br>Penerbit\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Rajawali Press, Jakarta<br>Tahun Terbit\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0: 2008<br>Jumlah Halaman\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0: xii + 578 hal<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\"><em>\u201cKeberhasilan \u2018tarekat\u2019 belakangan ini<\/em><br><em>dan kehadirannya yang terus meningkat<\/em><br><em>di kalangan kaum terdidik professional dalam<\/em><br><em>sektor masyarakat yang \u2018modern\u2019 dan<\/em><br><em>yang tengah melakukan \u2018modernisasi\u2019&nbsp;<\/em><br><em>umumnya tidaklah terduga&nbsp; dan terkira<\/em><br><strong>(John O. Voll)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam mainstream literatur teori sosial, kita dikenalkan dengan \u2018<em>Sufisme<\/em>\u2019, \u2018<em>Tasawu<\/em>f\u2019 atau \u2018<em>Tarekat<\/em>\u2019 sebagai sebuah ekspresi keislaman yang didalamnya terkandung gagasan tentang dunia sebagai sebuah \u2018<em>emanasi<\/em>\u2019 dari Tuhan dan \u2018paralelisme\u2019 mikrokosmos dan makrokosmos. Ia juga bisa dimengerti sebagai perkumpulan sukarela yang para anggotanya bergabung dengan tujuan yang terkait dengan konsepsi tentang \u2018kemaslahatan umat\u2019. Beberapa kelompok \u2018sufi\u2019 membangun dengan pola-pola hirarkhi tarekat yang ketat tetapi tidak sedikit pula yang membangunnya dengan asosiasi yang lebih longgar. Kedekatan diri dengan Allah kerap kali dibangun dengan berbagai praktik seperti zikir, doa, menyebutkan sifat-sifat dan teknik-teknik olah tubuh olah batin lainnya lainnya seperti cara-cara \u2018meditasi\u2019 dan \u2018kontenplasi\u2019. Memelihara solidaritas, persahabatan dan kedekatan antara \u2018<em>syaikh<\/em>\u2019 atau \u2018<em>mursyid<\/em>\u2019 dan murid-murid&nbsp; melalui pembelajaran pengutamaan tradisi dan perilaku yang benar merupakan karakteristik yang selalu dipraktikkan dalam kehidupan tarekat mereka. Meskipun batasan pengertian ini tidaklah sesuatu yang baku, minimal gambaran wajah inilah yang oleh awam kerap dipahami.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu tidak terlalu asing untuk mengenal gerakan-gerakan cabang \u2018sufisme\u2019 dalam skala global yang popular seperti \u2018<em>Naqsabandiyah<\/em>\u2019, \u2018<em>Khalwatiyah<\/em>\u2019, \u2018<em>Tijaniyah<\/em>\u2019, \u2018<em>Qadiriyah<\/em>\u2019, \u2018<em>Ahmadiyah<\/em>\u2019, \u2018<em>Syadziliah<\/em>\u2019, \u2018<em>Mawlawiyah<\/em>\u2019, dan beberapa gerakan sufisme berpengaruh di tingkat lokal lainnya seperti \u2018<em>Syattariyah<\/em>\u2019 \u2018<em>Wahidiyah<\/em>\u2019 dan \u2018<em>Rida\u2019iyah<\/em>\u2019. Nama-nama besar Syaikh sufi yang cukup terkenal bisa kita dapat seperti Ibnu Arabi, al-Jilli, Ghazali, Ahmad Kuftaru, Sa\u2019id Hawwa, Jalaluddin Rumi, Inayat Khan dan pemikir pembaharu sufisme lainnya seperti Hamka yang popular di Indonesia. Beberapa aliran besar \u2018sufismer\u2019 ini kemudian telah banyak berkembang dan bermetamorfosis ke&nbsp; anak cabangnya di beberapa negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa komunitas dan gerakan Islam besar di Indonesia seperti Nahdatul Ulama (NU) misalnya, pada beberapa hal lebih toleran terhadap perkembangan tarekat-tarekat sufi. Garis batas yang dipegang sebagai prinsip penilaian bagi NU terletak pada&nbsp; apakah tarekat sufi ini tarekat \u201c<em>mu\u2019tabarah<\/em>\u201d atau tarekat \u201c<em>ghairu mu\u2019tabarah<\/em>\u201d. Tarekat \u201c<em>mu\u2019tabarah<\/em>\u201d dengan sendirinya adalah tarekat yang \u2018sahih\u2019 (benar)_karena memiliki pertalian hubungan guru-murid sampai nabi Muhammad Saw. Sebaliknya tarekat \u201c<em>ghairu mu\u2019tabarah<\/em>\u201d dianjurkan untuk tidak diikuti untuk menghindari hal yang salah dalam menjalani hidup kesufian. Perkembangan kontemporer, sufisme baik \u201c<em>mu\u2019tabarah<\/em>\u201d maupun \u201c<em>ghairu mu\u2019tabarah<\/em>\u201d berkembang semakin luas terutama jangkaunnya di komunitas urban perkotaan. Ia membentuk format, pola dan relasi yang baru dengan perkembangan kemodernan saat ini. Bisa kita sebut &nbsp;beberapa nama \u2018<em>mursyid<\/em>\u2019 terkenal dengan tarekat sufi&nbsp; besarnya di Indonesia seperti KH. A. Shohibul Wafa Tajul Arifin yang memimpin <em>Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah<\/em> (TQN) di Suryalaya, Jawabarat;, KH. Asrori bin Muhammad Usman di TQN Kedinding, Surabaya, KH. Masyhuri Syahid di TQN Jombang Jawa Timur. Kita juga cukup akrab dengan berbagai model praktik sufi yang lebih popular dalam beberapa tahun ini dengan praktik zikir berjamaahnya seperti Majelis Zikir pimpinan Ustad Arifin Ilham, Majelis Zikir pimpinan H. Hariyono, Majelis Zikir As Samawat pimpinan KH. Saadi dan Majelis Zikir&nbsp; Istirham pimpinan KH. Abdurrahim Rajiun. Neskipun tergolong ghairu mu\u2019tabarah, tetapi para peminat dan pengikutnya cukup lumayan besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, tidak sedikit pandangan muslim masih melihat \u2018Sufisme\u2019 dengan karakterisasi \u2018<em>stereotipe<\/em>\u2019 dan \u2018<em>simplistik<\/em>\u2019 sebagai sebuah ekspresi keagamaan yang akan mengalami perubahan drastis berhadapan dengan situasi modernitas. Tesis ini sejalan dengan pandangan umum yang masih melihat \u2018<em>Sufisme<\/em>\u2019, \u2018<em>Tasawuf<\/em>\u2019 atau \u2018<em>Tarekat<\/em>\u2019 tidak sejalan dengan rasionalitas perubahan yang membawa pola-pola hidup yang lebih maju dan lebih modern. Tasawuf cenderung diletakkan sebagai yang \u2018<em>eksesif<\/em>\u2019, \u2018<em>kuno<\/em>\u2019, \u2018<em>tradisional<\/em>\u2019, dan sekaligus \u2018<em>mistis<\/em>\u2019. Keyakinan ini sejalan dengan beberapa pemahaman arus besar muslim terhadap \u2018sufisme\u2019 yang mengkatagorikan sebagai praktik kepercayaan yang bercampur dengan <em>bid\u2019ah<\/em>, <em>khurafat<\/em> dan juga \u2018<em>taqlid buta\u2019 <\/em>terhadap para pemimpin sufi. Dalam laju modernitas, sufisme dianggap akan melenyap.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kontroversi yang lebih keras, \u2018Sufisme\u2019 kerap mendapat serangan dan penentangan terutama oleh kelompok-kelompok &nbsp;\u2018<em>salafi<\/em>\u2019 dan kelompok islam modernis dengan gerakan orientasi pemurnian islamnya. Menguatnya marginalisasi atas eksistensi keberadaan sufisme di Indonesia terjadi terutama pada peralihan abad ke-20 ketika terjadi penguatan gerakan \u2018revitalisasi agama\u2019 atas pengaruh kaum pembaharu Islam di Timur Tengah. Pengkarakterisasi \u2018sufisme\u2019 sebagai \u2018<em>islam yang tidak islam\u2019<\/em> pernah cukup menguat pada saat-saat itu. Upaya revitalisasi ini didorong juga oleh spirit untuk membersihkan Islam dari pengaruh nilai-nilai yang dianggap \u2018bukan Islam\u2019. Atas semakin luasnya pertentangan ini, beberapa pengamat dan penulis tentang islam memprediksikan atas melenyapnya tradisi \u2018Tasawuf\u2019 dan gerakan \u2018Sufisme\u2019. Menurut beberapa pengamat tentang Islam, sufisme akan menghilang dan pudar juga seiring dengan perubahan sosial dan modernisasi. Ruang emosional keislaman akan direbut oleh para ulama dan gerakan islam yang berpusat di kota. Asumsi ini relatif bertahan lama hingga sisa-sisanya masih terasa saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika membaca dan menengok lebih jauh tentang perkembangan \u2018Sufisme\u2019 di berbagai wilayah dunia, muncul beberapa keraguan atas kebenaran anggapan-anggapan tesis di atas. Gelombang modernisasi yang dikawatirkan akan melibas setiap ekspresi \u2018kekunoan\u2019 yang tidak sejalan dengan logika pikir modern ternyata banyak sisi justru memberi sumbangsih atas kelahiran ekspresi-ekspresi keagamaan baru dalam Islam. Adaptasi dan cara bertahan hidup telah ditunjukan dengan berbagai elaborasi praktik-praktik baru&nbsp; \u2018Sufisme\u2019&nbsp; yang berkembang semakin beragam. &nbsp;Ada artikulasi praktik keislaman yang lebih luas dan menarik untuk dikaji lebih jauh ketimbang hanya diletakkan pada pandangan dikotomis semata. Perubahan yang dibawa oleh modernisasi banyak hal bertemu dengan berbagai kesalinghubungan konteks perubahan ekonomi, politik, kultural dan evolusi struktur-struktur kelembagaan lainnya. Dikotomi \u2018simplistik\u2019 yang menghadapkan \u2018sufisme\u2019 pada bentangan katagori \u2018<em>yang modern<\/em>\u2019 dan \u2018<em>yang tradisional<\/em>\u2019&nbsp; tidak menarik lagi menjadi kunci analisis. Sebaliknya, sufisme dalam keragaman praktiknya bisa mengambil jarak atas modernitas dan tetepai banyak hal juga bisa adaptif terhadap tuntutan-tuntutan perubahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Buku \u2018<em>Urban Sufism<\/em>\u2019 merupakan bunga rampai gagasan dari beberapa peneliti tentang \u2018Sufisme\u2019 di beberapa negara. Khasanah tentang dinamika dunia \u2018tasawuf\u2019&nbsp; yang&nbsp; memberi pemetaan menarik. <em>Pertama<\/em>, Sufisme sebagai entitas keagamaan tidak bisa hanya diletakkan semata pada pemahaman-pemahaman yang \u2018<em>a-historis\u2019<\/em>, \u2018<em>homogen<\/em>\u2019 dan \u2018<em>dikotomik<\/em>\u2019. Ada keragaman ekspresi, ada kekhasan tradisi dan ada multi pandangan yang mendorong \u2018Sufisme\u2019 bertumbuh dan berkembang. Fakta kebertahanan \u2018Sufisme\u2019 ini satu sisi telah menantang perspektif lama dan sekaligus mengajak semua orang untuk mulai memahami kelangsungan signifikansi \u2018sufisme\u2019 di dunia modern dan kontemporer dengan lebih mendalam. <em>Kedua,<\/em> Sufisme dalam keterkaitan dengan modernisasi tidak harus dibaca secara \u2018biner\u2019 dan hadap-berhadapan. Dinamika dan pasang surut kehidupan \u2018Sufisme\u2019 tidak hanya disebabkan oleh variabel modernitas. Lahirnya berbagai \u2018<em>neo-sufisme<\/em>\u2019 bisa jadi adalah hasil tarik menarik dan saling pengaruh dari perubahan berbagai struktur dan sistem sosial lain yang ikut berubah. Buku ini sekaligus mau mangajak untuk perlunya konseptualisasi ulang tentang berbagai pandangan tendesnsius dan mapan terhadap watak \u2018Sufisme\u2019. Secara etis terlihat upaya mendudukan berbagai keragaman \u2018Sufisme\u2019 dengan upaya pembacaan dan pemahaman lebih kritis melampaui perdebatan-perdebatan yang cenderung deterministik. <em>Ketiga<\/em>, buku ini ingin memahamkan bahwa \u2018Sufisme\u2019 dalam ekspresi dan praktiknya tidak memiliki sikap politik yang doktrinal secara kaku. Ia tidak juga dipahami sebagai entitas yang tidak berubah. Ia berkembang dan berevolusi dalam persentuhannya dengan faktor-faktor internal maupun eksternal. \u2018Sufisme\u2019 juga tidak hanya mengutup pada satu mode dan keyakinan dasar tertentu. Ia bisa terbentang dari paling \u2018<em>puritan<\/em>\u2019 sampai yang paling \u2018<em>perenialis<\/em>\u2019. Ia juga bisa tumbuh bergerak dari yang paling konnservatif sampai yang paling adaptif dengan arus modernitas. Ia bahkan bisa bergerak melampauio batas \u2018<em>yang tradisional<\/em>\u2019 dan \u2018<em>yang modern\u2019<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Buku ini mengangkat beberapa hasil kajian riset penting dan menarik tentang \u2018<em>Sufisme kontemporer\u2019 <\/em>di beberapa negara seperti Mali, Mesir, India, Indonesia dan negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat. Dalam beberapa aspek, buku ini mengajukan satu model pendekatan baru untuk melihat kembali hubungan yang lebih dinamis antara \u2018Sufisme\u2019, label-label \u2018non sufi\u2019, dan kondisi modernitas. Tidak hanya menjangkau komunitas-komunitas sufi lokal dan domestik, beberapa hasil riset lebih mengembangakan pada skala yang lebih luas yakni gerakan sufisme dalam skala internasional. Kuatnya perubahan eksternal dan penentangan yang bertubi-tubi atas eksistensi sufisme bukan menghentikan ekspresi keagamaan ini melenyap, ia dengan berbagai keunikan, kekhasan dan juga keragaman tradisi justru berkembang pesat. Di beberapa kehadirannya justru dimaknai sebagai cara-cara lebih stratagis untuk mempertahankan nilai-nilai keislaman dari gempuran budaya \u2018non Islami\u2019 yang semakin kuat. Sebagai halnya melakat pada konteks sosial historis, keberadaanya selalu berartikulasi dan bersentuhan dengan dinamika perubahan tersebut. Tesis tentang sekularisasi karena dampak modernitas dari beberapa pemikir tentang islam semakin terbantahkan dengan kemunculan wujud dan wajah \u2018<em>kebangkitan agama\u2019<\/em>. Sufisme bisa menjadi salah satu bagian entitas&nbsp; penting dalam upaya \u2018<em>desekuralisasi<\/em>\u2019 dan penjagaan nilai-nilai keislaman yang termasuk sangat penting. Para sufi pasca-kolonial, seperti yang ditunjukan John O. Voll dalam halaman akhir buku ini menunjukan sebuah kecenderungan perubahan baru wajah dan pola \u2018<em>pemasaran agama<\/em>\u2019 yang lebih ditentukan oleh situasi objektif lingkungan sufisme berada.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber :<\/strong><br><strong><em>Majalah Cetak ISRA PUSHAM UII. Edisi 06. Maret 2009<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"featured_media":4752,"template":"","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":""},"tahun-publikasi":[52],"tipe-publikasi":[47],"class_list":["post-5683","mb-publikasi","type-mb-publikasi","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","tahun-publikasi-tahun-2009","tipe-publikasi-opini-resensi"],"meta_box":{"nomor_policy_brief":"","upload_file_policy_brief":[],"link_to_policy_brief_file":"","file-laporan-tahunan":[],"link-file-laporan-tahunan":"","penulis":"Tri Guntur Narwaya, M.Si","book-file":[{"filesize":142465,"ID":"5685","name":"Urban-Sufisme.pdf","path":"\/var\/www\/vhosts\/pusham.uii.ac.id\/httpdocs\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Urban-Sufisme.pdf","url":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Urban-Sufisme.pdf","title":"Urban Sufisme"}],"link-book-file":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/Urban-Sufisme.pdf"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/mb-publikasi\/5683","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/mb-publikasi"}],"about":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/mb-publikasi"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4752"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5683"}],"wp:term":[{"taxonomy":"tahun-publikasi","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tahun-publikasi?post=5683"},{"taxonomy":"tipe-publikasi","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusham.uii.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tipe-publikasi?post=5683"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}