CATATAN PINGGIR
‹‹  prev | 2 | 3 |  next  ››
  • October 2, 2017

    Oleh: Despan Heryansyah

    (Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA)

     

    Para pendiri republik ini sempat melakukan kesalahan fatal ketika menolak hak asasi manusia karena menganggapnya sebagai produk Barat yang membawa angin individualisme. Perdebatan dalam sidang BPUPK sempat memanas, yang pada akhirnya mengharuskan konstitusi awal kita begitu minim pengaturannya terkait hak asasi manusia. Padahal keberadaan  konstitusi sejatinya adalah dalam upaya melindungi HAM.

  • August 30, 2017

    Oleh: Despan Heryansyah
    (Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK)  dan Mahasiswa Program Doktor
    Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA)

     

    Harus kita akui, bahwa sampai hari ini negara kita masih sulit sekali keluar dari pusaran kejahatan yang dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa oleh dunia Internasional, setidaknya terhadap Narkoba, Korupsi, dan Terorisme. Untuk kasus korupsi dan terorisme, kita mengapresiasi kinerja KPK dan Densus 88 yang sejauh ini telah bekerja dengan optimal. Tidak sedikit koruptor yang berhasil dijebloskan ke penjara meski kinerja KPK bukan tanpa cacat, begitu pula dengan tidak sedikit terorisme yang berhasil ditangkap yang barangkali berbanding lurus dengan jumlah terduga teroris yang ditembak mati.

  • August 14, 2017

    Oleh: Despan Heryansyah

     (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK))

     

    Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada perbaikan kuantitas menulis dari para penulis Indonesia pasca reformasi tahun 1998. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimanapun layak mendapatkan apresiasi. Perjuangan keras dan panjang para aktivis HAM, membuahkan hasil yang kita semua dapat memetiknya lalu menikmatinya. Tak terbayang bagaimana sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka, yang dihargai, dihormati bahkan dipuja di negeri orang, tapi diburu, dipenjara, dan diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri sendiri. Itu semua adalah harga mahal atas apa yang dapat kita nikmati hari ini. Kita barangkali beruntung karena terlahir pada era dimana menulis apapun, dimanapun, dan kapanpun sudah tidak menjadi persoalan. Namun disadari atau tidak, kondisi itu berdampak simetris dengan kualitas tulisan yang kita buat.

  • July 4, 2017

    Oleh: Despan Heryansyah, SHI., MH.

    (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII)

    Model pemidanaan yang terfokus pada pemberatan hukuman terhadap pelaku dengan tujuan agar menimbulkan efek jera adalah model lama yang sudah mulai ditinggalkan oleh kebanyakan negara-negara modern. Kini, telah terjadi merit sistem terhadap teori pemidaan melalui infiltrasi keilmuan lain semisal antropologi, sosiologi, psikologi, dan khususnya Hak Asasi Manusia (HAM). Yang terakhir merupakan diskursus yang paling banyak dibicarakan, yaitu perkawinan antara pemidanaan dengan hak asasi manusia. Wacana ini, layak untuk diangkat di Indonesia saat ini karena momentum perubahan UU Terorisme tengah gencar dibicarakan.

  • June 13, 2017

    DARURAT TERORISME

    Oleh: Despan Heryansyah, SHI., MH.

    (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII)

    Teroris menjadi masalah bersama semua negara di dunia termasuk Indonesia, tidak melihat apakah negara maju, berkembang, bahkan tertinggal sekalipun, tak ada yang luput dari ancaman terorisme. Bom bunuh diri yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur beberapa waktu lalu (24/5) seolah menjadi tanda bahwa masalah terorisme masih menjadi ancaman utama di negeri ini. Pelaku teror masih berkeliaran dimana-mana, bahkan kota besar sekelas Jakarta sekalipun. Seruan presiden Jokowi terhadap para pelaku teror bahwa “kami tidak takut masti”, tentu berdampak positif terhadap psikologi masyarakat Indonesia, namun itu sama sekali tidak cukup untuk menyelesaikan masalah terorisme.

  • June 5, 2017

    MEREKA DATANG MEMBAWA IDEALISME

    Puguh Windrawan, S.H., M.H.

    Pemimpin Redaksi Pranala

     

    Di tengah arus deras informasi yang menggejala dengan berbagai kepentingannya, pers mahasiswa seolah datang membawa harapan. Ia ditugaskan untuk menjadi media alternatif bagi bermacam isu yang ada. Dengan basis anggotanya kebanyakan mahasiswa, ada harapan bahwa media alternatif itu akan membawa idealisme yang menggebu. Tak pelak, sunggingan penuh harap tertancap di pundak para mahasiswa itu. Bagaimanapun juga, idealisme yang nyaris tak tertandingi dari para mahasiswa pernah menjadi contoh gerakan yang sempurna. Meruntuhkan tirani sebuah rezim yang berkuasa nyaris 30 tahun lebih.

  • February 28, 2017

    Pekerjaan Rumah Agar Kota Semakin Ramah

    Puguh Windrawan, S.H., M.H.

    Pemimpin Redaksi  Pranala

     

    Pulau Bali memang indah. Pemandangan alamnya sungguh cantik membelalakkan mata bagi sesiapa saja yang melihatnya. Lantaran itulah, kerapkali Bali dijadikan tujuan wisata yang tak terbantahkan. Aman, damai, dan tenang. Seperti itulah gambaran dari pulau ini. Sepintas, sukar sekali bagi kita untuk melihat apa yang sebenarnya menjadi masalah di sana. Akan tetapi, seorang kritikus lokal pernah menterjemahkan adanya potensi konflik yang terpendam. Perlu menjadi perhatian lebih karena kritikus itu melihat sebuah celah yang bilamana tak dijamah akan menimbulkan masalah.

    Namanya Putu Wirata. Tulisan bernas kritikus tentang Bali itu bisa diketemukan dalam buku yang lumayan lama; Bentara Esai-Esai 2002, yang diterbitkan oleh Kompas. Menurutnya, konflik yag suatu saat muncul lantaran adanya benih-benih kecil pertikaian yang tak menemukan solusi. Intinya, ia sebenarnya tak hendak mendeskriditkan Bali. Tak ada alasan untuk itu, karena ia sendiri adalah warga asli pulau tersebut.

  • April 18, 2016

    BEDA ITU FITRAH DAN BUKAN MASALAH

    Oleh: Puguh Windrawan

     

    Mengumpulkan orang untuk bisa duduk bersama itu bukan persoalan sepele. Apalagi bila dalam benak mereka mempunyai persepsi berbeda-beda soal agama. Lazimnya persepsi yang berbeda, bisa jadi akan menimbulkan persoalan yang tak selesai. Adu argumen, saling menyalahkan dan merasa dirinya yang paling benar dan paling berhak masuk surga. Inilah kesalahan manusia yang tak pernah berhenti sedari zaman purba. Mengeliminasi hak Tuhan untuk menentukan siapa saja yang bisa masuk surga. Padahal manusia sama sekali bukan Tuhan.

    Tapi anggapan miring itu ternyata salah kaprah. Setidaknya ini yang terjadi di sebuah kota kecil nan dingin, Wonosobo, Jawa Tengah. Dibantu oleh seorang kawan di sana, komunikasi mudah terjalin diantara mereka yang berbeda persepsi soal agama. Bayangkan, satu meja besar diisi mereka yang Syiah, Ahmadiyah, bahkan Aboge. Apakah ada gontok-gontokan? Sama sekali tidak! Hanya ada  uasana guyonan dan saling menghormati satu sama lain.

    Perbedaan itu biasa. Bukan untuk dimasalahkan. Banyak orang dengan banyak otak, tentu saja ada beragam cara dan persepsi. Apalagi soal agama yang sudah sejak turun temurun berkelindan dengan budaya setempat. Tuhan lebih bijak menjadikan manusia saling berbeda daripada menjadikannya satu. Saling belajar satu sama lain, dan ternyata suasana itulah yang bisa kita dapatkan di Wonosobo.

  • August 11, 2015

    Saat Lahir,
    BISAKAH KITA MEMILIH
    Apa Agama Kita

    Untuk orang yang saat ini sedang duduk dan kesakitan di luar sana, jika saya ingin meringkas apa yang dapat mereka lakukan dalam hidup, saya akan meringkasnya dalam enam kata, “Manusia mewujud seperti apa yang dipikirkannya.”
    (Mooris Goodman)

    Oleh: Puguh Windrawan

    Saya jadi ingat tulisan Jeffrey Lang pada sebuah buku yang inspiratif. Bukan karena semata-mata ia menjadi muslim. Tetapi, lebih kepada bagaimana ia berusaha mencari apa yang ia yakini. Kebetulan ia adalah seorang professor di sebuah perguruan tinggi di Amerika. Setidaknya, ketika saya membaca buku itu, Prof. Lang masih menjadi Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Amerika. Saya merasa, bagian paling menarik dari pengalaman Prof. Lang adalah ketika suatu saat, ia sedang berjalan dengan Jameela, putrinya yang masih kecil. Kemudian terjadilah dialog diantara mereka.

    Intinya, Jameela ingin bertanya kepada ayahya. Bagaimana seandainya ia kemudian berpindah agama, dari semula muslim ke Kristen? Sebagai penganut Islam, tentu saja Prof. Lang terperanjat. Alasan Jameelah, sebagai seorang anak kecil sangat sederhana. Ia merasa berat dengan apa yang harus dijalankan untuk menjadi kewajiban seorang muslim. Bahkan ia bertanya kepada ayahnya. “Aku sekedar ingin tahu, apakah Ayah akan marah padaku. Apakah nenek dan kakek memarahi ayah ketika engkau keluar dari agama Kristen dan kemudian memeluk Islam?”

  • February 20, 2014

    HUKUM TAK MENGERTI
    Penyandang Disabilitas

    Oleh : M. Syafi’ie, S.H.

    Berikan kepada saya hakim dan jaksa yang baik,
    maka dengan peraturan yang buruk pun
    saya bisa membuat putusan yang baik
    -Taverne-

    Penegak hukum adalah pundak bagaimana hukum bisa merespon persoalan-persoalan masyarakat. Adil atau tidak satu penega¬kan hukum, salah satunya bergantung kepada para penegak hukum itu sendiri. Satjipto Rahardjo menga¬takan, penegakan hukum itu bukan merupakan satu tindakan yang pasti, yaitu sekedar menerapkan satu peraturan hukum pada satu kejadian, sebab penega¬kan hukum ibarat menarik garis lurus antara dua titik : antara hukum dan manusia. Padsa level hukum yang normatif, penegakan hukum terlihat sederhana dan mudah, tinggal menerapkan satu peraturan. Tapi, penegakan hukum sebenarnya tidak semudah itu, ka¬rena penegak hukum harus mengerti tentang konteks sosial masyarakat, keadaan manusia yang bermasalah dengan hukum, dan bagaimana teks hukum harus diterapkan pada sisi yang lain.

  • June 10, 2013

    Perspektif Islam terhadap Hak Buruh
    Oleh : Eko Riyadi

    Introduksi

    Terdapat dua argumen penting untuk membicarakan Islam dan hak buruh pada saat ini, pertama, pemerintah Indonesia baru saja menandatangani Surat Kesepakatan Bersama Empat Menteri yang salah satunya membatasi kenaikan upah minimum regional bagi buruh. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah ini menuai kecaman dan menyebabkan gelombang demosntrasi di berbagai daerah terutama kantong-kantong perusahaan masal. Perusahaan masal yang dimaksud adalah perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar seperti industri garmen, industri rokok, industri perlengkapan rumah tangga dan lain-lain. Daerah-daerahnya antara lain Makasar, Surabaya, Semarang, Bandung, Bekasi, Tangerang dan beberapa daerah yang lain.

  • October 4, 2012

    Mengapa Gerakan dan Politik Islam (Gemar) Melayani Kekuasaan?

    Dian Yanuardy

     

    Awal

    Terdapat optimisme yang kuat dari sejumlah peneliti dan pengamat gerakan Islam, bahwa gerakan Islam adalah suatu kekuatan besar yang dapat menjadi elemen penting dari perubahan sosial di Indonesia. Kajian Hefner, misalnya, menyoroti tentang kekuatan kelompok Islam sipil dan demokratik sebagai tulang punggung demokrasi di Indonesia (Hefner 2000; Ramage 2002). Telaah serupa, dengan tekanan yang berbeda, juga pernah disuarakan oleh Eko Prasetyo yang menyebut bahwa kelompok Islam fundamentalis juga memiliki modal sosial yang tak kalah berharganya: barisan massa yang aktif dan militan, sikap oposisional terhadap imperialisme Barat, serta gaya hidup yang bertolak belakang dengan kultur kapitalisme (Prasetyo, 2003).

  • May 25, 2012

    Oleh : Tri Guntur Narwaya, M.Si

    “saya ingin memberikan Chaves paspor sehingga ia dapat menjadi warga Palestina.Kemudian kami memilih dia menjadi presiden Presiden,”

    (Mahmud Zwahreh, walikota Al-Masar, dekat kota Bethlehem)

    Kawasan Timur Tengah terus dan kian bergolak. Setiap waktu catatan tentang konflik dari skala kecil sampai yang besar tidak pernah terhenti terdengar. Kawasan ekonomi politik yang basah dengan segala potensi kekayaan dan sekaligus problem konflik berkepanjangan. Dalam catatan sejarah, di wilayah inilah medan laboratorium tempur berbagai ketegangan politik dan perang bersenjata pernah digelar. Tidak tanggung-tanggung ‘proyek bisnis perang’ terhitung mendapat lahan basahnya di kawasan ini.

  • April 26, 2012

    DARI USHUL FIQHI SAMPAI PELANGGARAN HAM

     Oleh : Syakib Arsalam
    Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Hukum UGM

     

    Kesulitan untuk tidak terjebak kedalam isu-isu HAM yang terbaratkan membuat ummat islam meminggirkan HAM serta mengkalim sebagai agenda kaum liberal untuk menguasai isu-isu penting dunia ketiga dalam mendapatkan persamaan dengan negara-negara maju. Efek dari dikotomi HAM dalam epistomolgi Islam telah memecah beberapa pemikir Islam kedalam kelompok-kelompok yang berujung pada tuduhan kelompok pro HAM, sebagai kaki-tangan negara kapitalis.

  • March 12, 2012

    Perspektif Islam terhadap Hak Buruh

    Oleh : Eko Riyadi
    Staf PUSHAM UII

    Introduksi

    Terdapat dua argumen penting untuk membicarakan Islam dan hak buruh pada saat ini, pertama, pemerintah Indonesia baru saja menandatangani Surat Kesepakatan Bersama Empat Menteri yang salah satunya membatasi kenaikan upah minimum regional bagi buruh. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah ini menuai kecaman dan menyebabkan gelombang demosntrasi di berbagai daerah terutama kantong-kantong perusahaan masal.

  • February 28, 2012

    KEMISKINAN ADALAH PELANGGARAN HAM

    Oleh : Imron, staf Pusham-UII

     

    Persoalan kemiskinan di Indonesia dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang lain hingga saat ini belum teratasi dengan baik, bahkan cendrung meningkat pasca tumbangnnya rezim orde baru. Seperti yang diberitakan oleh Kompas bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, angka kemiskinan di Indonesia belum membaik. Hingga Juni 2007, angka kemiskinan masih berada pada angka 37,17 juta jiwa atau 17,75 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Namun jika diukur dengan penghasilan sebesar 2 dolar perhari menurut bank dunia maka angka kemiskinan akan sangat banyak yaitu 108 juta orang.

  • December 15, 2011

    Muammar Fikrie

    Beberapa waktu lalu penulis sempat mengikuti sebuah seminar, yang diselenggarakan oleh salah satu ormas di Yogyakarta. Dalam kesempatan itu salah satu pembicaranya, Eko Prasetyo melemparkan pendapatnya soal kepahlawanan. Menurut bung Eko, dirinya terheran-heran melihat gambar-gambar pahlawan yang diperlihatkan kepada anak-anak usia Sekolah Dasar.

  • December 9, 2011

    M. Mahrus Ali *

    “Para pahlawan bukan untuk dikagumi, tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang mendasari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita”

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merealisasikan cita-cita pendahulunya, sebaliknya suatu bangsa akan menjadi kerdil bila ia menghianati cita perjuangan para pahlawannya tersebut. Adalah sebuah pengkhinatan terbesar bagi generasi penerus bangsa jika ia mau menyerahkan separuh “kedaulatan” bangsanya untuk kepentingan asing. Dengan dalih modernisasi itulah spirit kepahlawanan bangsa mulai sirna ditelan arus modernitas tersebut. Hilang bagaikan ditelan bumi.

  • December 9, 2011

    Oleh: Suparman Marzuki

    DOMINASI pendekatan legisme dalam penegakan hukum sejak awal abad ke-20 hingga sekarang ini memberi andil besar bagi keringnya perspektif sosial di dalam penegakan hukum. Penilaian mengenai efektifitas dan dampak sosial penegakan hukum misalnya diukur semata-mata berdasarkan kreteria rancu seperti jumlah warga negara yang terkena sasaran penegakan hukum,

  • December 9, 2011

    Oleh: Suparman Marzuki, S.H., M.Si

    CITRA polisi dalam pelaksanaan hukum dan hak asasi manusia (HAM) sepanjang kehidupan negeri ini selalu dipandang negatif karena dalam kenyataannya Polisi merupakan institusi penegak hukum yang paling transparan dalam hal pelanggaran HAM.  Tewasnya Tjetje Tajuddin, perlakuan terhadap keluarga Udin serta penangkapan dan perlakuan terhadap Iwik beberapwa waktu lalu merupakan kasus-kasus aktual yang sampai sekarang masih menyisakan masalah. Itu baru jenis kasus langsung dan harfiah pelanggaran HAM;

‹‹  prev | 2 | 3 |  next  ››
Indonesia
versi Bahasa Indonesia
Research
research held by PUSHAM UII
Library
a library of PUSHAM UII
T-Shirts
T-shirt produced by PUSHAM UII
Bulletin
bulletin published by PUSHAM UII
Books
books published by PUSHAM UII
Newsletter & Comics
newsletter and comic published by PUSHAM UII
Catatan Pinggir
short analysis about human rights
Catatan Pinggir
October 2, 2017

Oleh: Despan Heryansyah

(Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA)

 

Para pendiri republik ini sempat melakukan kesalahan fatal ketika menolak hak asasi manusia karena menganggapnya sebagai produk Barat yang membawa angin individualisme. Perdebatan dalam sidang BPUPK sempat memanas, yang pada akhirnya mengharuskan konstitusi awal kita begitu minim pengaturannya terkait hak asasi manusia. Padahal keberadaan  konstitusi sejatinya adalah dalam upaya melindungi HAM.

News
June 17, 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
June 15, 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
June 9, 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
June 9, 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.