KASUS
23 April 2004
Kekerasan Polisi Terhadap Tersangka/Saksi Pasca Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan dalam UU No. 5 Tahun 1998 dan Berlakunya UU HAM
 
No

Keterangan & Sumber Kasus

Pelaku

Korban

Tanggal/Tempat Kasus

1

Tersangka pencurian sepeda motor tahun 1999, ditahan di Poltabes Yogyakarta. Dalam tahanan atau pemeriksaan pernah disiksa oleh polisi.

Aparat Poltabes Yogyakarta

Edi Rokhim Suprayitno

Tahun 1999

2

Pada 26 Januari 2000 Nur cahyo diperiksa polisi atas tuduhan sebagai pelaku pembakaran dan upaya peledakan Masjid Gede kauman, Yogyakarta. Nur Cahyo dibawa oleh polisi Polsek Gondomanan ke paranormal (Asnuri), lalu dibacok lengannya 3 kali karen atidak keluar darah maka dia dianggap polisi bukan sebagai pelakunya.

Aparat Polsek Gondomanan, Polda DIY, dan Asnuri (paranormal)

Nur cahyo (warga Bantul) pedagang pigura malioboro

26 Januari 2000, Pandak, bantul

3

Penyerbuan dan pengrusakan kantor majalah mahasiswa ARENA IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta Sekitar 100 orang yang menamakan dirinya Front Pembela Islam. Telah dilaporkan ke Poltabes Yogyakarta. Namun tidak pernah ditindaklanhjuti oleh polisi.

Sekitar 100 orang yang menamakan dirinya FPI

Mahasiswa Arena

Jum'at, 18 Agustus 2000 di Kampus IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

4

Tindakan main hakim secara beramai-ramai (sekitar 185 orang) warga tuksono yang mengakibatkan meninggalnya seorang warga tuksono. Polisi memeriksa 185 pelaku selanjutnya menjadi 50  dan selanjutnya pelaku yang diperiksan harus apel dan sering dimintai duit rokok untuk petugas polisi, hingga akhirnya polisi hanya mengajukan 11 tersangka.

Oknum Polres Kulon Progo

Bejo, Poniran, Nurhidayatno (warga Tuksono)

Pada 22 Agustus 2001, Tuksono, Kulon Progo

5

Pada September 2001, polisi Gondokusuman melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pelajar SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta atas tawuran yang menyebabkan kerusakan sebuah mobil di SMU Negeri 9 Yogyakarta. Tersangka diperiksa tanpa didampingi penasehat hukum dan juga dianiaya oleh penyidik. Penyidikan dihentikan setelah orang tua siswa mengganti biaya kerusakan mobil. Dalam pencarian pelaku pengrusakan mobil itu, polisi menyisir SMU Muhi dengan mengerahkan 2 truk personelnya tanpa surat tugas dan memaksa meminta daftar nama-nama pelajar SMU Muhi.

Aparat Polsek Gondokusuman

Siswa SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta

Pada September 2001 di Polsek Gonkusuman

6

Pada September 2002, anak muntarsiho yang bernama tomi, dianiaya oleh anak seorang polisi dari Polres Sleman 6berpangkat Briptu. Ketika kejadian ini dilaporkan oleh korban kepolisi, kasus ini tidak segera diproses, melainkan diselesaikan di depan penyidik atas inisiatif seorang oknum polisi.

Polres Sleman

Muntarsiho (Warga Sleman)

Pada September 2002

7

Sepulang dari bekerja, Anggi biasa diantar pulang oleh seorang anggota reserse poltabes Yogyakarta yang sebelumnya sudah dikenal Anggi. Diperjalanan Anggi di bawa kekaliurang dan digoda serta dipaksa melakukan hubungan seks. Pemaksaan itu dilakukan juga dengan cara memukul anggi.

Seorang anggota reseerse Poltabes Yogyakarta

LM alias Anggi (karyawan sebuah karaoke di Yogyakarta)

Bulan September 2001

8

Aan Yulianto (19) yang berstatus sebagai saksi tewas setelah mengalami pemeriksaan di markas Polda DIY menyusul perkelahian massal di diskotek JJ Jl Magelang Yogyakarta, pada jum’at (29/03/02) dini hari.

Aparat Brimob Polda DIY

Aan Yulianto

Jum’at/Sabtu, 29-30 Maret 2002, di Markas Polda DIY

9

Ditahan di Markas Polsekta Umbulharjo Yogyakarta, Rabu 19 Juni 2002, dengan sangkaan melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan di PT. Milenium Primarindo Sejahtera Jl. Menteri Supeno, Umbulharjo, Yogyakarta.

Aparat Polsek Umbulharjo

Firman Kasih Telaumbanua (Karyawan PT. Milenium Primarindo Sejahtera, Yogyakarta)

19 Juni 2002 atau selama menjadi tahanan Polsek Umbulharjo

10

Tersangka kasus narkoba, ditahan sejak 10 September 2002, selama dalam tahanan mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh polisi

Aparat Polsek Depok Barat

Nasrulloh Adirajak alias Acun

10 September 2002 atau selama menjadi tahanan Polsek Depok Barat

11

Rabu malam, 27 September 2000, di lingkar selatan Stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta, satu regu (10 orang) aparat dari Kesatuan Brimob Polda DIY bertugas mengamankan pertandingan bola basket antara SMU Kolese De Britto Sleman dan SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta di Stadion Kridosono. Saat usai pertandingan, aparat Brimob Polda DIY melakukan pembubaran paksa terhadap massa pendukung tim basket SMU Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta. Saat itulah Kahfi (18 th/pelajar Kelas III IPS) tertembak sehingga peluru bersarang di belikat kanannya. Selain Kahfi, ada sekitar 26 pelajar SMU Muhi yang luka-luka dan memar termasuk yang parah yaitu Rake Andri (Kelas III IPS).

Aparat Brimob Polda DIY

Kahfi, dan 26 pelajar Muhi luka-luka memar. 

Rabu malam, 27 September 2000, di lingkar selatan Stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta

12

Rabu siang, 22 November 2000, Aparat Polres Bantul menghukum secara tidak manusiawi tiga orang pelajar SMU Muhammadiyah 1 Bantul yaitu M. Teguh Santoso (Kelas III), M. Ismail (Kelas III), dan M. Budi Santoso (Kelas I). Ketiga pelajar itu ditangkap saat akan pulang seusai menyaksikan pertandingan sepakbola antarsekolah di Lapangan Ringinharjo, Bantul, dalam rangka Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda). M. Budi Santoso mengalami siksaan yang keras sehingga tidak bisa masuk sekolah.

Aparat Polres Bantul

M. Teguh santoso, M. Ismail, & M. Budi santoso

22 Nopember 2000 di Polres Bantul

13

Puluhan orang anggota Detasemen Markas (Denma) Polda DIY terlibat saling serang dengan sekelompok massa tidak dikenal. Peristiwanya bermula dari pertengkaran antara pengunjung bar Hotel Matahari  dan anggota Denma Polda DIY pada Rabu malam, 31 Januari 2001. Karena tidak puas, 7 orang anggota Denma Polda DIY mendatangi kembali Hotel Matahari pada dini hari Kamis, 1 Februari 2001. Saat itulah terjadi penyerangan oleh massa yang sudah berkumpul di Hotel Matahari terhadap ke-7 anggota Denma Polda DIY sehingga menciderai ke-7 aparat itu dan beberapa pengunjung serta seorang petugas pengaman hotel. Karena kasus itu, aparat kepolisian pun melakukan sweeping setiap malam di seputar Hotel Matahari dan kampung Karangkajen sehingga meresahkan warga kampung. Akibatnya, polisi juga salah tangkap terhadap Gd (28 th) hanya karena namanya sama dengan pelaku yang dicurigai.

Anggota Detasemen Markas  Polda DIY

Meresahkan warga kampung Karangkajen

1 Februari 2001 di Hotel Matahari Jl. Parangtritis Yogyakarta km. 2

14

Dewi Gustiana (wartawan tulis Suara Pembaruan) dan Tatan Agus Rustandi (wartawan foto majalah GATRA) dipukul (tonjokan ke kamera), dipuku, dihardik, dan dihalang-halangi aparat keamanan dari Kepolisian Daerah DIY tanpa menghiraukan identitas pers yang dikenakan korban. Tindakan itu dilakukan polisi saat membubarkan secara paksa massa Aliansi Mahasiswa Kontra Politisasi Kampus (A1MKPK) yang menolak Presiden Gus Dur masuk kampus UGM. AMKPK terdiri dari mahasiswa KM UGM, AMPRI, Dema UNY, Dema UPN, KAMMI, HMI MPO, dan DEPERA. Jum’at siang, 16 Februari 2001, di Kampus UGM (seputar Jalan Kaliurang dan Jalan C. Simanjuntak)

Aparat Polda DIY

Dewi Gustiana (wartawan tulis Suara Pembaruan) dan Tatan Agus Rustandi (wartawan foto majalah GATRA

Jum’at siang, 16 Februari 2001, di Kampus UGM (seputar Jalan Kaliurang dan Jalan C. Simanjuntak)

15

Aparat polisi dari Poltabes Yogyakarta bentrok dengan massa dan Pasukan Keamanan (Paskam) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DIY saat berkonvoi usai Tabligh Akbar. Akibat bentrok itu, 16 orang dari massa dan Paskam PPP DIY mengalami luka-luka dan sejumlah sepeda motor milik massa dan Paskam PPP rusak. Lima orang diantaranya mengalami luka serius yaitu Zaenal Arifin (47 th), Nurul Ismailia Fahmi (22 th), Doni Fardian (17 th), Darma Wijaya (33 th), dan Nurzani Setiawan (35 th). Dini hari setelah bentrok itu, Senin (11/6/01), massa PPP melakukan sweeping dan merusak sekitar 15 titik fasilitas umum di seputar Kota Yogyakarta. Pada hari Rabu (13/6/01), kelima korban itu bersama kuasa hukumnya dari LBH Yogyakarta melapor ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/2 Yogyakarta.

Aparat Poltabes Yogyakarta

16 orang dari massa dan Paskam PPP DIY mengalami luka-luka dan sejumlah sepeda motor milik massa dan Paskam PPP rusak. Lima orang diantaranya mengalami luka serius yaitu Zaenal Arifin (47 th), Nurul Ismailia Fahmi (22 th), Doni Fardian (17 th), Darma Wijaya (33 th), dan Nurzani Setiawan (35 th).

Minggu siang, 10 Juni 2001, di Jalan Sultan Agung, Yogyakarta.

16

Salah tembak oleh aparat Reserse Poltabes Yogyakarta terhadap Surip Supriyadi, mahasiswa STIE Widya Wiwaha Yogyakarta angkatan 1999. Salah tembak itu terjadi saat aparat Reserse Poltabes Yogyakarta akan membubarkan massa yang sedang mengeroyok seorang pelaku pencurian sepeda motor (curanmor) di Kampus STIE Widya Wiwaha, Yogyakarta.

Aparat Reserse Poltabes Yogyakarta

Surip Supriyadi, Mahasiswa STIE WW

Senin siang, 22 Oktober 2001 di kampus STIE Widya Wiwaha, Yogyakarta.

17

Seorang anggota reserse mobil (Resmob) Satuan Brimob Polda DIY, Brigadir Sut, menembak Walmudi alias Klowor dan Dadi Susilo alias Gundul. Akibat penembakan itu, Klowor tewas dan Gundul mengalami luka parah di bagian tulang pipi karena proyektil puluru bersarang

Brigadir Sut, anggota reserse mobil

Walmudi alias Klowor dan Dadi Susilo alias Gundul

Rabu dini hari, 20 Maret 2002, di Jalan Pasar Kembang, Yogyakarta.

18

Pembubaran paksa massa Aliansi Aksi mahasiswa yang menolak Presiden Gus Dur masuk kampus UGM yang dilakukan oleh aparat kepolisian daerah DIY (Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 17 Februari 2001).

 

Aparat Polda DIY

Mahasiswa Kontra Politisasi Kampus (AMKPK). AMKPK terdiri dari mahasiswa KM UGM, AMPRI, Dema UNY, Dema UPN, KAMMI, HMI MPO, dan DEPERA.

Jum'at, 16 Februari 2001, di Kampus UGM (Jl. Kaliurang), Yogyakarta.

19

Penangkapan dan pembubaran aksi mahasiswa HMI-MPO Yogyakarta yang tergabung dalam Tim Tausiyah Nasional Revolusi (Titanare). Aksi dilakukan bersamaan dengan kedatangan Wapres Megawati Soekarnoputri ke Gedung Agung Yogyakarta. Alasan Kapoltabes, mahasiswa melanggar UU No. 9/1999 ttg. Penyampaian Pendapat di Muka Umum.

(Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, Minggu, 18 Februari 2001).

Aparat Poltabes Yogyakarta

Dua belas (12) orang mahasiswa HMI-MPO

Sabtu, 17 Februari 2001 di

Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta.

20

Sejumlah polisi dari kesatuan Unit Perintis Sabhara (UPS) menganiaya Ignatius de Layota Aditya (19 tahun) dan Yustinus Eric Agathan (19 tahun) dengan cara menendang dan memukul. Kejadian bermula dari salah paham saat kedua korban yang berboncengan sepada motor melintas di Jalan Sudirman bersama dua rekannya yang lain yang juga berboncengan sepeda motor. Ketika korban akan memisahkan diri dari rekannnya dengan berbelok ke arah utara menuju Jalan Cik Di Tiro, korban pun melambaikan tangan dan menjulurkan lidah (melet) pada kedua rekannya yang masih berada di Jalan Sudirman. Saat itu sepeda motor rekan korban persis berada di belakang mobil Kijang yang ditumpangi sejumlah polisi UPS. Karena mengira korban mengejek mereka, maka mobil patroli UPS itu pun mengejar korban sampai ke Jalan Suroto (depan Telkom).

Sejulah polisi dari kesatuan unit Perintis Sabhara (UPS)

Ignatius de latoya Aditya (19 thn.) dan Yustinus Eric Agathan (19 thn)

Senin siang, 10 Juni 2002, di Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta.

21

Sepuluh orang tersangka yang berstatus sebagai tahanan RUTAN di Polsek Depok Barat. Ruang tahanan tersebut berukuran sekitar 6-7 m2, idealnya untuk 3-4 tahanan. Adanya 10-14 tahanan di Polsek itu menyebabkan para tahanan tidak dapat duduk, tidur dan beraktifitas dengan leluasa, bahkan ada atu orang tahanan yang menderita sesak nafas akibat berdesak-desakan.  (sumber; Pokja Police Community Polsek Depok Barat)

Aparat Polsek Depok Barat, Sleman

1.     Sugeng Riyadi/20 thn/swasta/Candi karang Rt. 4/9 Sodonoharjo, Ngaglik, Sleman. Tahanan Polsek Depok Barat kasus pencurian

2.     Toni Hermawan/23thn/mhs/Gg. Flamboyan No. 14 Gejayan. Tahanan Polsek Depok Barat kasus pencurian

3.     Wahyu Ari Susilo/20 thn/Mhs/Wonoboyo Rt. 2/II, Jogonalan, Klaten. Tahanan Polsek Depok Barat kasus pencurian

4.     Topan Prabowo/41thn/Panjer Rt. 2/8, Kebumen. Tahanan Polsek Depok Barat kasus pencurian

5.     Dani Afrizal/21 thn/swasta/Gg. Johor 156/ Janti. Tahanan Polsek Depok Barat kasus narkoba

6.     Yufentus Y./20 thn/swasta/Grogol, Berbah, Sleman. Tahanan Polsek Depok Barat kasus narkoba.

7.     Lukman S. 19 thn/pengamen/Putra Agung 13 F Gg. III Surabaya. Tahanan Polsek Depok Barat kasus narkoba.

8.     Widodo Ariawan/22 thn/swasta/Ambarukmo Ds. Gowok Rt. 4/2 no. 155. Tahanan Polsek Depok Barat kasus pencurian.

9.     Yudianto Al Mbetu/20 thn/swasta/ Ambarukmo Ds. Gowok Rt. 4/2 no. 155. Tahanan Polsek Depok Barat kasus pencurian.

10.  Riska Darta/21 thn./swasta/Klitren Lor GK. III/204 Rt. 8 A/3. Tahanan Polsek Depok Barat kasus pencurian. Dan 4 tahanan lainya belum terdata.

 Bulan Januari 2003

22

Pada bulan Februari 2003, tersangka kasus pencemaran nama baik melanggar pasal 310 KUHP, ditarik uang sebanyak Rp. 10.000.000,00 oleh penyidik Polsek Kalibawang dengan kompensasi perkaranya tidak akan ditindaklanjuti.

Aparat Polsek Kali Bawang

Sumarni/Kalibawang, Kulon Progo

Pada bulan Februari 2003

23

Tersangka kasus penganiayaan atau pengeroyokan terhadap dukun cabul pada tahun 2000 di Kecamatan sentolo. Kasus ini tidak dilanjutkan setelah para tersangka ditarik uang oleh penyidik polsek sentolo.

Aparat Polsek Sentolo

Slamet/Serang, Desa Sendangsari, Kec. Pengasih, Kab. Kulon Progo

Pada tahun 2000

24

Tersangka kasus Narkoba ditangkap dan ditahan di Poltabes Yogyakarta pada januari 2003. Setelah memberikan sejumlah uang tertentu tersangka bebas dan kasusnya belum ditindak lanjuti.

Aparat Poltabes Yogyakarta

Sodhigoni Nuzula (warga Depok /Sleman)

Pada Januari 2003

25

Salah tembak terhadap Dian Wahyuningsih (16 th.) yang dilakukan oleh anggota Resmob dari Sat Brimob Polda DIY saat mengejar penjahat buronan. Korban adalah pelajar salah satu SLTP di Yogyakarta. Akibat tembakan salah sasaran itu, peluru  bersarang di bagian tumit korban sehingga harus menginap beberapa hari di Rumah Sakit.

anggota Resmob dari Sat Brimob Polda DIY

Dian Wahyuningsih (16 th.)

Senin malam, 23 September 2002, di Jalan Urip Sumohardjo (Jl. Solo), Yogyakarta.

26

Dua orang penyanyi dangdut, Lia Dwi Puspita (26 th) dan Tarti Puspita (32 th), ditembak oleh dua orang laki-laki tidak dikenal. Akibat penembakan itu, kaca belakang dan samping mobil Honda Civic Wonder milik korban hancur, sementara kedua korban tidak mengalami cidera. Pelaku penembakan ialah Nsr alias Gepeng (21 th) dan Agg alias Gombleh (20 th), dan seorang anggota Polda DIY dari Unit Narkoba Polda DIY berpangkat Brigadir Polisi Tingkat Satu Adi Setyawan berjuluk Kempo (26 th) sebagai otaknya.

Nsr alias Gepeng (21 th) dan Agg alias Gombleh (20 th), dan seorang anggota Polda DIY dari Unit Narkoba Polda DIY berpangkat Brigadir Polisi Tingkat Satu Adi Setyawan berjuluk Kempo (26 th) sebagai otaknya.

Lia Dwi Puspita (26 th) dan Tarti Puspita (32 th)

Senin dini hari, 21 Oktober 2002, di Jalan Kusbini, Gondokusuman, Yogyakarta.

27

Seorang anggota satuan Brigade Mobil (Brimob) Daerah Istimewa Yogyakarta berjuluk Tompel menembak Ristianto Nugroho (25 th) pada Minggu (1/12) dini hari dengan pistol jenis FN kaliber 22. Sebelum ditembak, Ristianto (makelar penjualan barang) sempat dikeroyok lebih dulu oleh Tompel dan kawan-kawannya. Korban menderita luka-luka serius akibat dipukul dengan botol dan borgol di bagian kepala dan luka tembak di lengan kanan.

Seorang anggota satuan Brigade Mobil (Brimob) Daerah Istimewa Yogyakarta

Ristianto Nugroho (25 th)

29 Minggu dini hari, 1 Desember 2002, di Jalan Sosrowijayan, Yogyakarta.

28

Penangkapan, penahanan, dan disertai penyiksaan terhadap gideon pasca peristiwa aksi demonstrasi menentang pra pertemuan CGI, Minggu 19 Januari 2003. Tersangka kemudian ditangguhkan penahanannya pada Kamis 23 Januari 2003.

Aparat Poltabes Yogyakarta

Gidion

19, 20 dan 21 Januari 2003 di Poltabes Yogyakarta

29

Oknum polres Sleman berpakaian preman diminta bantuan oleh seorang kreditor untuk menagih utang, dalam penagihan itu polisi melakukan kekerasan dengan cara menodongkan pistol kepada debitur (Wahyudi T.) ketika hasil musyawarah tidak tercapai.

Oknum Polsek Jetis memaksakan diri menerima laporan dari kreditur meskipun senyatanya kasus hutang piutang murni perdata yang kemudian telah dilunasi sebelum jatuh tempo. Oknum Polsek Jetis meminta uang Rp. 1,5 juta dengan konpensasi selama penyidikan tidak akan ditahan. Oknum Poltabes Yogya yang mendapat limpahan kasus dari Polsek meminta Rp. 5 juta sebagai uang jaminan agar tidak ditahan dalam rutan. Meskipun tersangka sudah melaunasi utangnya, tetap saja perkaranya dilimpahkan kekejaksaan. Dan oleh oknum kejari Yogyakarta diancam akan ditahan selama proses sekiranya tidak mau menyerahkan uang sebanyak Rp. 10 juta.

-          Oknum Polres Sleman

-          Oknum Polsek Jetis

-          Oknum Poltabes Yogyakarta

-          Oknum Kejari Yogyakarta

Wahyudi T.

Wilayah Jetis, Yogyakarta dalam Penyidikan Kejari Yogyakarta.

30

Oknum Polsek Jetis tidak memproses laporan anak jalanan, dimana anak jalanan tersebut dianiaya oleh pemilik toko dengan cara menyemprotkan air (diduga air accu) ketika mereka tertidur di emperan toko. Tetapi Polsek Jetis malah memproses lebih dulu laporan pemilik toko terhadap anak jalanan tersebut dengan dalih merasa terganggu.

 

Polsek Jetis

 

Irma Dwi Suryani, Karangwaru, Yogyakarta

Wilayah Polsek Jetis

31

Pada bulan Februari 2003, tersangka kasus pencemaran nama baik melanggar pasal 310 KUHP, ditarik uang sebanyak Rp. 10.000.000,00 oleh penyidik Polsek Kalibawang dengan kompensasi perkaranya tidak akan ditindaklanjuti.

Aparat Polsek Kali Bawang

Sumarni/Kalibawang, Kulon Progo

Pada bulan Februari 2003

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
14 Agustus 2017

Oleh: Despan Heryansyah

 (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK))

 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada perbaikan kuantitas menulis dari para penulis Indonesia pasca reformasi tahun 1998. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimanapun layak mendapatkan apresiasi. Perjuangan keras dan panjang para aktivis HAM, membuahkan hasil yang kita semua dapat memetiknya lalu menikmatinya. Tak terbayang bagaimana sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka, yang dihargai, dihormati bahkan dipuja di negeri orang, tapi diburu, dipenjara, dan diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri sendiri. Itu semua adalah harga mahal atas apa yang dapat kita nikmati hari ini. Kita barangkali beruntung karena terlahir pada era dimana menulis apapun, dimanapun, dan kapanpun sudah tidak menjadi persoalan. Namun disadari atau tidak, kondisi itu berdampak simetris dengan kualitas tulisan yang kita buat.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.