BULLETIN
Undang-Undang Intelejen
 

Kata Pengantar

Kembalinya Rezim Represif

Masih terasa hingar-bingar reformasi beberapa tahun sham. Ribuan orang tumpah ruah di jalanan. Semuanya mengutuk kekejaman rezim orde baru. Mereka menuntut pelanggaran HAM diusut mulai kasus DOM Aceh, Timur-Timur, Tanjung Priok, Talangsarh, Komando Jihad, penghilangan aktifis secara paksa, sampai dengan tuntutan penuntasan kasus penembakan di Trisakti dan Semanggi. Awal reformasi ialah era terburainya kebobrokan kekuasaan berdarah orde batu. Tidak ada yang menyangkal tentang kejadian —kejadian itu. Semuanya terakui, bahwa aparat keamananlah yang melakukannya. ABRI sebagai algojo lapangan dengan dwi fungsinya dibubarkan, Polish dan TNI dipisahkan. Di awal reformasi pula, Undang-Undang Subversi yang menjadi alat legitimasi kesewenang-wenangan penguasa dicabut.

Suasana kutukan itu masih terekam dalam pikiran publik saat i. Termasuk, memori berdarah dan menakutkan dan berbagai kekerasan dan kekejaman di arena konflik masa lalu. Di tengah suasana yang belum usai itu, kini nurani publik kembali dihentakkan dengan berbagai upaya penguasa untuk membangun rezim yang mematai-matai kelompok kritis dan menciptakan sistem yang abnormal di tengah upaya demokratisasi dan penataan negara hukum pasca otoritarianisme orde baru. Fakta itu terlihat dan legalisasi intelejen untuk bertindak seperti halnya aparat penegak hukum yang bisa menyadap, menangkap dan melakukan tindakan yang lain seperti penyelidikan, pengamanan dan pemeriksaan.

Dalam RUU Intelejen yang saat ni telah disahkan oleh DPR, 11 Oktober 2011 kemarin, menegaskan beberapa hal kontroversial seperti penegasan fungsi intelejen meliputi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan yang nota bene merupakan kerja-kerja dan aparat hukum. Selain itu, intelejen juga memiliki wewenang khusus meliputi penyadapan yang tidak jelas syaratdan anturan penggunaan dan wewenang tersebut, meliputi orang seperti apa yang bisa disadap, sampai kapan batas waktu penyadapan, demi kepentingan apa penyadapan, dan persyaratan lainnya yang tidak jelas. Muatan yang paling berpotensi mendorong pelanggaran HAM dan Undang-Undang Intelejen ialah wewenang Intelejen untuk melakukan pemeriksaan intensif dengan durasi waktu 7 x 24 jam tanpa melalui ijin pengadilan dan pendampingan kuasa hukum.

Muatan-~ muatan dalam Undang-Undang Intelejen tersebut jelas bermasalah dan pasti berdampak terhadap pelanggaran HAM. Dalam banyak kasus seperti penanganan terorisme yang selama ml banyak dikerjakan oleh intelejen, disana-sini begitu banyak korban yang mendapatkan penyiksaan, penganiayayaan, dan tidak sedikit juga yang terang-terangan telah saiah tangkap. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatinkan dan menyesakkan dada bagi mereka yang berhati nurani. Problemnya, sebagaimana juga telah diatur dalam Undang-Undang Intelejen telah terdesain tidak adanya mikanisme komplain bagi para korban yang telah mengalami dampak pelanggaran kesewenang-wenangan Intelejen. Dampak lanjutannya tentu tidak adan ganti rugi bagi para korban. Kondisi tersebut sesungguhnya telah memperlihatkan wajah dan rezim lama, yaitu otoniatanianisme dan negara yang digerakkan tan pa supremasi hukum

Di tengah kerisauan tersebut, ada satu upaya legal yang bisa ditempuh untuk memperbaiki buramnya Undang-Undang Intelejen, yaitu lewat mikanisme judicial review di Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang Intelejen penting untuk diperbaiki, sehingga eksistensi lntelejen di masa depan tidak menjadi sumber penderitaan rakyat, tetapi akan berguna bagi perwujudan perdamaian, kesejahteraan dan tata nilai yang berkeadilan sebagamana telah dimandatkan dalam UUD 1945. Harapan itu, bagaimanapun akan selalu ada.

 

Download

 

Daftar Isi

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
13 Juni 2017

DARURAT TERORISME

Oleh: Despan Heryansyah, SHI., MH.

(Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII)

Teroris menjadi masalah bersama semua negara di dunia termasuk Indonesia, tidak melihat apakah negara maju, berkembang, bahkan tertinggal sekalipun, tak ada yang luput dari ancaman terorisme. Bom bunuh diri yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur beberapa waktu lalu (24/5) seolah menjadi tanda bahwa masalah terorisme masih menjadi ancaman utama di negeri ini. Pelaku teror masih berkeliaran dimana-mana, bahkan kota besar sekelas Jakarta sekalipun. Seruan presiden Jokowi terhadap para pelaku teror bahwa “kami tidak takut masti”, tentu berdampak positif terhadap psikologi masyarakat Indonesia, namun itu sama sekali tidak cukup untuk menyelesaikan masalah terorisme.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.