BULLETIN
Konflik Tata Ruang
 

Kata Pengantar

Penataan kota Yogyakarta hari-hari ini begitu marak. Tamanisasi, penertiban PKL dan jalan menunjukan intensitas yang luar biasa. Perekonomian alternatif ini digeser dengan pembangunan mal dan pertokoan besar. Padahal selama ini perekonomian alternatif ini merupakan jalan keluar dari meningginya angka pengangguran. Lalu, mau dikemanakan sebenarnya arah pembangunan kota budaya ini?

Awalnya, penggeseran perekonomian alternatif berdalih penataan kota. Kota ini kotor, semrawut dan perlu ditertibkan. Alasan itu selalu saja menjadi bekal pemerintah untuk menggusur PKL. Nampaknya kota lebih berpihak pada industri perekonomian megah.

Ruang kota semakin dikuasai oleh kelas menengah dan kelas pemodal. Sementara rakyat miskin terus menerus digusur, direlokasi, dan dipinggirkan. Bahkan kalau perlu mereka juga akan dibinasakan karem hanya akan menjadi beban pemerintah saja. Sudah tidak memberikan sumbangan, banyak tuntutan lagi. Tidak seperti pemodal yang selalu memberikan upeti gono-gini.

Lalu, apa yang sebenarnya masyarakat peroleh secara langsung dari pembangunan mal? Apa pula yang bisa dirasakan masyarakat dari pembuatan jalan tol atau tamanisasi trotoar? Benarkah masyarakat membutuhkan itu semua? Benarkah pembangunan tak selalu menguntungkan rakyat?

Bukankah seharusnya kota tidak hanya dimiliki oleh orang kaya dan pemodal saja, orang miskin juga berhak tinggal di kota. Dan sudah semestinya pembangunan memberdayakan masyarakat miskin. Gusur saja kemiskinan, tapi jangan gusur rakyat miskin.(redaksi)

 

Daftar Isi

  • Menalar Kebijakan Pemerintah : Relokasi Dan Penciptaan Ikon Pariwisata Yogyakarta
  • Konflik Tata Ruang Kota Berebut Penguasaan Jalan
  • HAM Dan Tantangan Globalisasi
  • Gaya Hidup Remaja Vs Peran Keluarga
  • Pentingnya Merumuskan Kembali Pendidikan Di Akpol
  • COP Di Tengah Belantara Papua: Usaha Keamanan Alternative Di Manunggal Karya
  • Indonesia Tidak Merdeka !!
Indonesia
versi Bahasa Indonesia
Research
research held by PUSHAM UII
Library
a library of PUSHAM UII
T-Shirts
T-shirt produced by PUSHAM UII
Bulletin
bulletin published by PUSHAM UII
Books
books published by PUSHAM UII
Newsletter & Comics
newsletter and comic published by PUSHAM UII
Catatan Pinggir
short analysis about human rights
Catatan Pinggir
March 23, 2018

Oleh: Despan Heryansyah

(Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA)

 

Demokrasi prosedural telah mengantarkan kita pada ruang yang penuh paradoks, orang kemudian berbondong-bondong atas nama dan kekuatan mayoritas menggerakkan masa lalu menekan negara mengikuti kehendak mereka, tidak jarang kehendak itu justeru menabrak prinsip-prinsip demokrasi. Padahal, demokrasi sejak semula adalah resistensi terhadap elitisme politik, ia adalah perlawanan tak bersenjata terhadap kekuasaan yang dipegang kaum berpunya.

News
June 17, 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
June 15, 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
June 9, 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
June 9, 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.