BUKU
Vulnerable Groups: Kajian dan Mekanisme Perlindungannya
 

Kata Pengantar

Buku ini dimaksudkan untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan wacana sekaligus kerangka aksi bagi pemenuhan, perlindungan dan penghormatan hak-hak manusia yang masuk kategori kelompok rentan (vulnerable groups). Buku ini berisi penjelasan sekaligus perdebatan sebagai upaya mendukung upaya memberikan perhatian dan aksi khusus bagi kelompok rentan (vulnerable groups).

Kelompok rentan (vulnerable groups) yang terakomodasi dalam penulisan buku ini antara lain (a) Anak; (b) Perempuan; (c) Penyandang Disabilitas; (d) Pekerja Migran; (e) Masyarakat Adat; (f) Kelompok Minoritas, yang terdiri dari minoritas Kerumpunbangsaan, Etnis, dan Kebahasaan, dan minoritas Keagamaan dan Kepercayaan; (g) Lain-Lain, terdiri dari orang dengan diferensiasi seksual dan orang dengan penyakit tertentu.       

Ditulis oleh 11 (sebelas) orang ahli yang mewakili expertise pada bidangnya masing-masing, buku ini wajib dibaca oleh siapapun yang konsern terhadap hak asasi manusia seperti tenaga pengajar, mahasiswa (khususnya mahasiswa hukum dan ilmu social), aktifis non-government organization, hakim, jaksa, advokat, penyelenggara negara seperti dinas social, kepolisian, satuan polisi pamong praja, dan seluruh pemangku kepentingan  yang akan bersentuhan dengan kelompok masyarakat tersebut.

 

Download

 

Daftar Isi

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
13 Juni 2017

DARURAT TERORISME

Oleh: Despan Heryansyah, SHI., MH.

(Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII)

Teroris menjadi masalah bersama semua negara di dunia termasuk Indonesia, tidak melihat apakah negara maju, berkembang, bahkan tertinggal sekalipun, tak ada yang luput dari ancaman terorisme. Bom bunuh diri yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur beberapa waktu lalu (24/5) seolah menjadi tanda bahwa masalah terorisme masih menjadi ancaman utama di negeri ini. Pelaku teror masih berkeliaran dimana-mana, bahkan kota besar sekelas Jakarta sekalipun. Seruan presiden Jokowi terhadap para pelaku teror bahwa “kami tidak takut masti”, tentu berdampak positif terhadap psikologi masyarakat Indonesia, namun itu sama sekali tidak cukup untuk menyelesaikan masalah terorisme.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.