BERITA
03 Juni 2017
Pulang Kampung, Aktivis Perempuan Yazidi Tak Tahan Menangan Tangis
 

Nadia Murad, perempuan pegiat hak asasi manusia yang juga korban yang selamat dari kekejaman kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS)(AP PHOTO)

 

BAGHDAD, KOMPAS.com - Nadia Murad, perempuan Yazidi yang menceritakan kengerian yang dihadapi warga minoritas ini saat ISIS menguasai sebagian wilayah Irak, pulang ke kampung halamannya.

Dan, di kali pertamanya mengunjungi tempat kelahirannya sejak 2014 itu, Nadia tak kuasa menahan emosi dan tangisnya.

Nadia (24), menangis dalam pelukan kakak laki-lakinya, anggota milisi Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) yang berhasil membebaskan desa Kojo dari tangan ISIS awal pekan ini.

Di desa itu, Nadia juga mengunjungi rumah lamanya, mengumpulkan pakaian milik ibunya yang tewas dibunuh ISIS karena dianggap terlalu tua untuk dijadikan budak.

"Saya sudah menunggu hari ini selama hampir tiga tahun," kata Nadia kepada fotografer Reuters yang ikut bersama pasukan PMF.

Nadia yang kini dikenal sebagai aktivis itu ditangkap pasukan ISIS saat kelompok tersebut menduduki Irak dan Suriah tiga tahun lalu.

Dia kemudian dijual sebagai budak sebelum dibawa ke kota Mosul di mana dia mengalami pelecehan seksual dan penyiksaan fisik selama beberapa bulan sebelum bisa melarikan diri.

Nadia mendapatkan perhatian internasional setelah memberika kesaksian di PBB pada 2015. Di sana dia menceritakan nasib desa-desa Yazidi, pembantaian 600 pria termasuk enam saudara laki-lakinya.

"Kami harap kami juga dibunuh ketimbang dijual sebagai budak dan diperkosa orang-orang Suriah, Irak, Tunisia, dan Eropa," ujar Nadia.

Sejak berhasil melarikan diri, Nadia menjadi penasihat etnis Yazidi dan para pengungsi serta aktivis hak-hak perempuan.

Pada 2016, dia dan rekannya sesama perempuan Yazidi, Lamiya Aji Bashar menerima penghargaan Sakharov untuk kebebasan berpikir.

PBB yakin, kejahatan yang dilakukan terhadap etnis minoritas Yazidi di Irak termasuk dalam katagori genosida.

Nadia kini tengah melobi pemerintah Irak dan PBB untuk menggelar investigasi dan dokumentasi resmi terkait ribuan kuburan tanpa identitas yang berserak di kawasan itu.

Di sisi lain, kota basis ISIS terkuat di Irak, Mosul sudah hampir jatuh ke tangan pasukan koalisi Irak.

ISIS juga sudah terusir dari sebagian besar wilayah Sinjar, provinsi yang banyak dihuni etnis Yazidi.

EditorErvan Hardoko

 

Sumber :

Kompas.com - 03 Juni 2017

Independent,

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
02 Oktober 2017

Oleh: Despan Heryansyah

(Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA)

 

Para pendiri republik ini sempat melakukan kesalahan fatal ketika menolak hak asasi manusia karena menganggapnya sebagai produk Barat yang membawa angin individualisme. Perdebatan dalam sidang BPUPK sempat memanas, yang pada akhirnya mengharuskan konstitusi awal kita begitu minim pengaturannya terkait hak asasi manusia. Padahal keberadaan  konstitusi sejatinya adalah dalam upaya melindungi HAM.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.