BERITA
14 April 2016
Kematian Siyono Layak Masuk Pelanggaran HAM
 

Keluarga Siyono (Foto: Ilustrasi)

 

Prabowo

Jurnalis

 

YOGYAKARTA - Kematian terduga teroris asal Klaten, Siyono, dinilai tidak wajar. Ada indikasi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan personel Densus 88 Mabes Polri. Hal itu terlihat dari hasil autopsi terhadap jenazah Siyono yang dilakukan Tim Dokter Forensik PP Muhammadiyah.

"Melihat hasil autopsi, kami mendesak Komnas HAM supaya menjadikan kasus Siyono ini menjadi pelanggaran HAM," kata anggota Tim Pembela Kemanusiaan, Trisno Raharjo, dalam keterangan pers di Pusham UII Yogyakarta, Rabu (13/4/2016).

Tim Pembela Kemanusiaan sendiri merupakan bentukan dari PP Muhammadiyah untuk mengawal kasus Siyono. Tim ini beranggotakan berbagai elemen, seperti LBH Yogya, Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum UMY, PKBH UAD, PKBH Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pusham UII, Forum LSM, ICM, LBH Kadin DIY, dan LBH Baskara PM DIY.

"Kasus Siyono ini sudah bukan hanya pada ranah etik pelanggaran personel Densus 88, namun sudah mengarah ke arah pidana," imbuh Dekan Fak Hukum UMY itu.

(Baca juga: Tim Hukum Kaget, Siyono Sudah Ditetapkan Tersangka)

Selain hasil autopsi, pemberian uang dua gepok senilai Rp100 juta juga sebagai bukti ada pelanggaran. Sudah sepantasnya kasus Siyono ini dinaikkan statusnya menjadi pelanggaran HAM.

Mereka juga mempertanyakan kenaikan status Siyono yang sebelumnya terduga teroris menjadi tersangka. Hal itu menimbulkan kerancuan banyak kalangan.

"Sejak kapan status Siyono menjadi tersangka. Awalnya berstatus terduga teroris, tapi saat ayahnya menerima surat sudah menjadi tersangka," katanya.

Karena itu, pihaknya meminta polisi terbuka dan transparan dalam penyelidikan kasus ini. Independen dan profesional diperlukan agar tidak ada kecurigaan dari berbagai pihak.

(Ari)

 

Sumber :

okezone.com Rabu, 13 April 2016

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
14 Agustus 2017

Oleh: Despan Heryansyah

 (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK))

 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada perbaikan kuantitas menulis dari para penulis Indonesia pasca reformasi tahun 1998. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimanapun layak mendapatkan apresiasi. Perjuangan keras dan panjang para aktivis HAM, membuahkan hasil yang kita semua dapat memetiknya lalu menikmatinya. Tak terbayang bagaimana sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka, yang dihargai, dihormati bahkan dipuja di negeri orang, tapi diburu, dipenjara, dan diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri sendiri. Itu semua adalah harga mahal atas apa yang dapat kita nikmati hari ini. Kita barangkali beruntung karena terlahir pada era dimana menulis apapun, dimanapun, dan kapanpun sudah tidak menjadi persoalan. Namun disadari atau tidak, kondisi itu berdampak simetris dengan kualitas tulisan yang kita buat.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.