BERITA
14 April 2016
Pemeriksaan Jasad Siyono Versi Polri Dinilai di Bawah Standar
 

Rabu, 13 April 2016 | 14:49 WIB

KOMPAS.com / Wijaya Kusuma Trisno Raharjo Ketua Tim Pembela Kemanusiaan kasus Siyono saat memberikan keterangan terkait otopsi Siyono di kantor Pusham UII, Rabu (13/04/2016)

 

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Tim Pembela Kemanusiaan yang dibentuk oleh PP Muhammadiyah menilai hasil pemeriksaan polisi terkait penyebab meninggalnya Siyono tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pasalnya, polisi hanya sebatas melakukan pemeriksaan luar dan tak sesuai standar otopsi.

"Saya sempat menanyakan kepada dokter-dokter ahli forensik, apakah kalau begini (hasil scan) termasuk otopsi," ujar Trisno Raharjo, Ketua Tim Pembela Kemanusiaan Kasus Siyono, di kantor Pusham UII, Rabu (13/4/2016).

"Jawabannya bukan otopsi dan di bawah standar," lanjutnya.

Menurut dia, jika pihak kepolisian hanya melakukan pemeriksaan luar dan di bawah standar, maka penyebab dari kematian Siyono tidak bisa dijelaskan.

Selain itu, kesimpulan dari pemeriksaan yang tidak sesuai standar juga tidak dapat dipertanggungjawabkan.

"Hanya men-scan dari luar lalu disimpulkan. Hasil scan-nya dikirimkan ke keluarga sebagai penyebab kematian. Menurut dokter forensik, hasil itu tidak bisa dipertanggungjawabkan," tandasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, ada perbedaan hasil Tim otopsi PP Muhamadiyah dan Komnas HAM dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh Polisi.

Dari hasil otopsi yang dilakukan Tim otopsi PP Muhamadiyah dan Komnas HAM beberapa waktu lalu, penyebab kematian Siyono terdapat di bagian dada.

"Berdasarkan otopsi yang telah disampaikan di Komnas HAM Jakarta, penyebab kematian ada pada dada. Bukan pada bagian kepala seperti yang disampaikan Mabes Polri," pungkasnya.

 

Sumber:

Kompas.com Rabu, 13 April 2016

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
14 Agustus 2017

Oleh: Despan Heryansyah

 (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK))

 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada perbaikan kuantitas menulis dari para penulis Indonesia pasca reformasi tahun 1998. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimanapun layak mendapatkan apresiasi. Perjuangan keras dan panjang para aktivis HAM, membuahkan hasil yang kita semua dapat memetiknya lalu menikmatinya. Tak terbayang bagaimana sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka, yang dihargai, dihormati bahkan dipuja di negeri orang, tapi diburu, dipenjara, dan diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri sendiri. Itu semua adalah harga mahal atas apa yang dapat kita nikmati hari ini. Kita barangkali beruntung karena terlahir pada era dimana menulis apapun, dimanapun, dan kapanpun sudah tidak menjadi persoalan. Namun disadari atau tidak, kondisi itu berdampak simetris dengan kualitas tulisan yang kita buat.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.