BERITA
06 Agustus 2015
HUT ke 63 Kopassus
 

Aktivis HAM Apresiasi Perubahan Paradigma Lawan Jadi Kawan
Sucipto

 


Aktivis HAM Apresiasi Perubahan Paradigma Lawan Jadi Kawan
Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sebagai pasukan elit TNI terus melakukan pembenahan internal. Salah satunya adalah merubah paradigma lawan menjadi kawan.(ilust/SINDOphoto)



JAKARTA - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sebagai pasukan elit TNI terus melakukan pembenahan internal. Salah satunya adalah merubah paradigma lawan menjadi kawan.

Perubahan cara pandang Kopassus itu, dinilai oleh sejumlah aktivis kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai sesuatu yang positif sekaligus implementasi dari program reformasi TNI.

Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi‬ mengapresiasi langkah Kopassus yang mengubah paradigmanya menjadi 3 S yakni, Senyum, Sapa, Salam. Paradigma ini akan mendekatkan Kopassus dengan rakyat.

"Saya memberikan apresiasi yang khusus kepada Kopassus, setidaknya dalam beberapa tahun belakangan ini terutama dimasa kepemimpinan Danjen Pak Agus Sutomo dan Pak Doni Monardo yang telah melakukan perubahan signifikan dan berani," ujarnya di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Rabu 22 April kemarin.

Perubahan tersebut, kata Hendardi, menunjukkan ada kemauan dari Kopassus untuk melakukan reformasi. Apalagi, pada peringatan HUT ke 63 Kopassus ini, sejumlah lawan-lawan politik Kopassus di masa lalu diundang. ‪Artinya Kopassus membuka diri. Sebab, dengan komunikasi siapapun bisa lebih mengenal.

"Kopassus membuka diri dengan mengundang banyak pihak yakni, lawan-lawan politiknya. Meskipun tidak memaksa orang yang berbeda pandangan politiknya untuk sama, tetapi itu merupakan langkah keterbukaan yang perlu diapresiasi," kata Hendardi.

Sebagai orang yang pernah berseberangan, Hendardi mengaku, pada masa lalu Kopassus adalah alat negara yang punya loyalitas dan kepatuhan tanpa batas. Sayangnya, hal itu seringkali disalahgunakan.
Meski disadari, tindakan tersebut merupakan tugas yang harus dilakukan tentara menghadapai musuh-musuh negara. "Ini bentuk loyalitas yang dimanipulasi rezim politik. Seyogyanya Kopassus, dalam momentum HUT ke 63 tahun ini, politik tentara itu adalah politik kenegaraan dan kemanusiaan. Inilah yang selama ini mengharumkan nama TNI. Bukan malah memusuhi rakyat," katanya.‬

Hendardi berharap, ke depan Kopassus tidak dijadikan sebagai alat bagi rezim politik yang berkuasa. Sehingga tidak berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri karena kepentingan rezim politik.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar juga mengapresiasi langkah yang diambil Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo. "Kita apresiasi Pak Doni karena punya sejumlah gagasan baru, itu perlu didorong supaya lebih terstruktur paradigma barunya. Ketika negara tidak memikirkan bagaimana TNI supaya lebih maju dan modern, untungnya ada orang seperti pak Doni," katanya.

Menurut Haris, langkah Kopassus yang mengundang musuh-musuhnya di masa lalu untuk bertemu dinilai sebagai upaya untuk membangun benchmark atau tolak ukur supaya hal seperti itu tidak terjadi lagi.

"Kalau lihat komitmennya Pak Doni, ini titik baru supaya terbuka, lebih profesional, lebih solid. Membangun komunikasi dengan pihak yang pernah berseberangan menunjukkan ada keterbukaan. Hal itu membuat faktor pengawasan lebih baik. Selama ini kita mengawasi tapi di jarak yang jauh. Mudah-mudahan keterbukaan ini membuat kita lebih mudah mengawasi dan memahami lebih dekat lagi," katanya.

Dia berharap, Kopassus meneruskan reformasi TNI. Langkah ini harus ditiru oleh unit-unit yang lain. "Harapannya Kopassus tidak seperti dulu lagi, terlibat di sejumlah kekerasan dan pelanggaran HAM. Karena mereka pasukan khusus, bergerak sedikit efek kehancurannya banyak," ucapnya. (whb)

Sumber :
SINDONEWS.com  Kamis, 23 April 2015

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
30 Agustus 2017

Oleh: Despan Heryansyah
(Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK)  dan Mahasiswa Program Doktor
Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA)

 

Harus kita akui, bahwa sampai hari ini negara kita masih sulit sekali keluar dari pusaran kejahatan yang dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa oleh dunia Internasional, setidaknya terhadap Narkoba, Korupsi, dan Terorisme. Untuk kasus korupsi dan terorisme, kita mengapresiasi kinerja KPK dan Densus 88 yang sejauh ini telah bekerja dengan optimal. Tidak sedikit koruptor yang berhasil dijebloskan ke penjara meski kinerja KPK bukan tanpa cacat, begitu pula dengan tidak sedikit terorisme yang berhasil ditangkap yang barangkali berbanding lurus dengan jumlah terduga teroris yang ditembak mati.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.