CATATAN PINGGIR
18 April 2016
BEDA ITU FITRAH DAN BUKAN MASALAH
 

Oleh: Puguh Windrawan

 

Mengumpulkan orang untuk bisa duduk bersama itu bukan persoalan sepele. Apalagi bila dalam benak mereka mempunyai persepsi berbeda-beda soal agama. Lazimnya persepsi yang berbeda, bisa jadi akan menimbulkan persoalan yang tak selesai. Adu argumen, saling menyalahkan dan merasa dirinya yang paling benar dan paling berhak masuk surga. Inilah kesalahan manusia yang tak pernah berhenti sedari zaman purba. Mengeliminasi hak Tuhan untuk menentukan siapa saja yang bisa masuk surga. Padahal manusia sama sekali bukan Tuhan.

Tapi anggapan miring itu ternyata salah kaprah. Setidaknya ini yang terjadi di sebuah kota kecil nan dingin, Wonosobo, Jawa Tengah. Dibantu oleh seorang kawan di sana, komunikasi mudah terjalin diantara mereka yang berbeda persepsi soal agama. Bayangkan, satu meja besar diisi mereka yang Syiah, Ahmadiyah, bahkan Aboge. Apakah ada gontok-gontokan? Sama sekali tidak! Hanya ada  uasana guyonan dan saling menghormati satu sama lain.

Perbedaan itu biasa. Bukan untuk dimasalahkan. Banyak orang dengan banyak otak, tentu saja ada beragam cara dan persepsi. Apalagi soal agama yang sudah sejak turun temurun berkelindan dengan budaya setempat. Tuhan lebih bijak menjadikan manusia saling berbeda daripada menjadikannya satu. Saling belajar satu sama lain, dan ternyata suasana itulah yang bisa kita dapatkan di Wonosobo.

Saat kemudian kita berkumpul di satu meja dengan mereka; ada Syiah, Ahmadiyah, dan Aboge, maka kita semua adalah saudara. Sama-sama manusia yang membutuhkan rasa aman dan membutuhkan kebebasan untuk beribadah. Dari balik itu semua, bahwa kebenaran yang mereka dapatkan dengan memegang teguh keyakinan masing-masing adalah masalah pribadi. Kebenaran yang terbawa berasal dari proses pencarian, dan proses itu melalui jalan yang berbeda antara satu orang dengan orang lain.

Wonosobo adalah salah satu contoh dimana mereka yang memeluk agama minoritas mendapatkan kebahagiannya. Bebas beribadah tanpa ada rasa takut. Bebas mengelola keimanannya sesuai dengan apa yang diyakini. Anehnya, semua ini justru ditemukan di kota kecil dan bukan di kota besar yang dipenuhi oleh banyak orang pintar. Sebuah keanehan yang justru membuat kita harus berpikir ulang; mengapa banyak kota besar justru tidak ramah kepada mereka yang minoritas?

Wonosobo memang menjadi contoh dimana orang bisa saling hormat atas keyakinan masing-masing. Ini bukan barang baru, karena situasi ini disinyalir sudah muncul sejak jaman dulu di kota itu. Hanya saja, yang namanya mempertahankan prestasi –jika kebebasan beragama di wonosobo disebut sebagai prestasi- lebih susah daripada membuatnya. Ada pekerjaan rumah yang begitu besar bagi kota yang kecil ini. Mereka harus membuktikan jika sebuah kota kecil adalah rumah yang nyaman bagi semua orang. Termasuk bagi mereka; Syiah, Ahmadiyah, dan Aboge.

Sumber :
Pranala edisi 3, Mei-Juni 2015
Judul: "Kota Asri Penuh Toleransi"
Penerbit: PUSHAM UII

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
14 Agustus 2017

Oleh: Despan Heryansyah

 (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK))

 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada perbaikan kuantitas menulis dari para penulis Indonesia pasca reformasi tahun 1998. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimanapun layak mendapatkan apresiasi. Perjuangan keras dan panjang para aktivis HAM, membuahkan hasil yang kita semua dapat memetiknya lalu menikmatinya. Tak terbayang bagaimana sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka, yang dihargai, dihormati bahkan dipuja di negeri orang, tapi diburu, dipenjara, dan diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri sendiri. Itu semua adalah harga mahal atas apa yang dapat kita nikmati hari ini. Kita barangkali beruntung karena terlahir pada era dimana menulis apapun, dimanapun, dan kapanpun sudah tidak menjadi persoalan. Namun disadari atau tidak, kondisi itu berdampak simetris dengan kualitas tulisan yang kita buat.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.