CATATAN PINGGIR
11 Agustus 2015
Saat Lahir, BISAKAH KITA MEMILIH Apa Agama Kita
 

Untuk orang yang saat ini sedang duduk dan kesakitan di luar sana, jika saya ingin meringkas apa yang dapat mereka lakukan dalam hidup, saya akan meringkasnya dalam enam kata, “Manusia mewujud seperti apa yang dipikirkannya.”
(Mooris Goodman)

 

Oleh: Puguh Windrawan 

 

Saya jadi ingat tulisan Jeffrey Lang pada sebuah buku yang inspiratif. Bukan karena semata-mata ia menjadi muslim. Tetapi, lebih kepada bagaimana ia berusaha mencari apa yang ia yakini. Kebetulan ia adalah seorang professor di sebuah perguruan tinggi di Amerika. Setidaknya, ketika saya membaca buku itu, Prof. Lang masih menjadi Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Amerika. Saya merasa, bagian paling menarik dari pengalaman Prof. Lang adalah ketika suatu saat, ia sedang berjalan dengan Jameela, putrinya yang masih kecil. Kemudian terjadilah dialog diantara mereka.

Intinya, Jameela ingin bertanya kepada ayahya. Bagaimana seandainya ia kemudian berpindah agama, dari semula muslim ke Kristen? Sebagai penganut Islam, tentu saja Prof. Lang terperanjat. Alasan Jameelah, sebagai seorang anak kecil sangat sederhana. Ia merasa berat dengan apa yang harus dijalankan untuk menjadi kewajiban seorang muslim. Bahkan ia bertanya kepada ayahnya. “Aku sekedar ingin tahu, apakah Ayah akan marah padaku. Apakah nenek dan kakek memarahi ayah ketika engkau keluar dari agama Kristen dan kemudian memeluk Islam?”

Prof. Lang agaknya mulai mengenang masa lalunya. Agaknya, anaknya sudah mulai kritis dengan berbagai hal yang muncul di sekitarnya, termasuk dalam dirinya sendiri. Yang menarik adalah, ia sama sekali tak bisa menyalahkan pemikiran Jameelah, yang kala itu masih berusia 9 tahun. Ia merasa bahwa apa yang dipikirkan Jameela pernah muncul dalam dirinya sendiri. Anaknya adalah refleksi dari pemikirannnya di masa lalu. Prof. Lang mengerti, bahwa pertanyaan ini hanyalah sebuah bentuk awal dari apa yang disebutnya sebagai fase kritik dan proses dalam perkembangan keagamaan.

Tanpa tendensi untuk menyalahkan sedikitpun, ia kemudian berkata kepada Jameelah. Sebuah perkataan bijak, yang luarbiasa. Prof. Lang mengatakan bahwa ia sangat menyayangi anaknya itu. Mulai dari saat menimang membuatnya seakan berada dia atas langit. Sebuah kosakata untuk mengatakan bahwa memiliki Jameelah adalah sebuah anugerah yang luarbiasa.

“Dan setelah dewasa kelak, engkau juga harus melakukan apa yang kau yakini benar. Ayah akan selalu mendampingi, membantu, dan menasehatimu, tetapi pada akhirnya engkau sendirilah yang harus memutuskan apa yang kaunggap baik, bahkan ketika ayah dan ibumu tak setuju dengan keputusanmu. Aku hanya berharap, bahwa engkau mesti menentukan pilihan-pilihan dengan penuh pertimbangan yang cerdas dan matang,” kata Prof. Lang.

Siapa yang tidak terkejut mendapatkan pertanyaan dari sang anak. Apalagi menyangkut agama. Bagaimana jika ini terjadi dengan anak Anda? Saya terkadang berpikir, jika saya tidak dilahirkan oleh orang tua saya, maka saya saat ini sedang berada dimana? Kebetulan, saya lahir di keluarga muslim, jadinya tertera dengan jelas bahwa orang tua saya memilihkan agama untuk saya; Islam. Ini saya. Tetapi, mungkin bisa jadi Anda berbeda. Anda lahir di lingkungan keluarga Kristen, yang secara otomatis membuat agama Anda menjadi Kristen. Saya tak pernah menemukan hal ini. Ketika ada seseorang yang lahir dari kedua orang tua yang muslim, ternyata orang tua memilihkan anak itu beragama Kriten. Sebaliknya, kedua orang tuanya Kristen, kemudian anaknya yang lahir dijadikan beragama Islam. Saya belum pernah mendengar itu.

Bukan hanya agama. Kita sendiri tak berdaya saat dipilihkan sebuah nama oleh kedua orang tua kita. Ketidakbedayaan membuat kita belum bisa mengambil jalan sendiri. Pilihan orang tua, menjadi pilihan awal yang sama sekali tak bisa ditolak. Memang, suatu saat kita punya pemikiran sendiri. Setelah lama bergelut dengan pengalaman-pengalaman, lantas kita bisa merujuk kepada identitas yang akan kita pikul. Akan tetapi, landasan awal, baik tentang agama ataupun persoalan pemilihan nama tetap pada orang tua masing-masing.

Ini juga masalah kesadaran tentang makna identitas itu. Kita itu sama-sama tak berdaya di hadapan Tuhan, dan ketika Tuhan menjadikan kita manusia di muka bumi, ada saat dimana kita sama sekali tak bisa memilih. Ini yang harus dijawab, mengapa Tuhan memilihkan kita berada di tempat ini dan tidak di tempat itu? Mengapa Tuhan menjadikan kita bertemu dengan orang tua ini dan bukan dengan orang tua itu? Mengapa Tuhan memberikan kita latar belakang kemiskinan dan bukan memberikan kita kepada keluarga yang berlatar belakang kekayaan?

Inilah yang harus dijawab. Tuhan pasti punya rencana untuk ini. Mengapa kita tak bisa menjadi orang laindan bukan terbalik, orang lain yang menjadi kita? Pastilah ada makna dan keterangan yang bisa ditelisik. Tuhan itu Maha Adil. Kita sepakat untuk ini. Kita sepakat bahwa Tuhan bukan mahluk. Dia-lah yang menguasai segenap alam, lalu mengapa menjadikan kita berbeda satu sama lain? Dilahirkan berbeda agama dan berbeda keyakinan. Apakah lantas dengan itu semua membuat kita justru memberangus perbedaan tersebut?

Awalnya sudah berbeda. Tak mungkin ada kesamaan. Tuhan-lah yang membuat itu. Bukan hak manusia dan bukan kewenangan manusia untuk menaklukan perbedaan. Bagaimana mungkin menaklukan perbedaan sedang dari ‘sono-nya’ kita sudah berbeda? Apa ada yang salah ketika kita dilahirkan di tengah keluarga Muslim, Yahudi atau Kristen bahkan ateis sekalipun? Itu bukan pilihan kita. Kita hanya bisa memilih ketika kita sudah punya pengalaman untuk memilih. Kita bisa menentukan identitas kita setelah kita punya wawasan dan mengerti tentang kehidupan.

Agama itu keyakinan, bukan sekedar pemberian. Jika itu pemberian, maka Tuhan bisa dikatakan tidak adil, karena menjadikan agama kita berbeda, karena orang tua yang memilihkan kita untuk itu. Tapi saya yakin dan mungkin Anda juga sepakat untuk itu; bahwa Tuhan bukanlah entitas yang sembarangan. Ia disembah karena Ia punya kelebihan dibanding mahluk dan bahkan menciptakan mahluk. Lantas, apa yang membuat saya, Anda dan kita semua membenci orang yang sama sekali berbeda keyakinan dengan kita?

Saya ingin mengusik Anda dan kita semua dengan pertanyaan sensitif ini. Jika Anda seorang muslim yang hidup di tengah orang kristen, atau sebaliknya, Anda kristiani yang hidup di tengah orangorang muslim, kira-kira apa yang ada di pikiran Anda? Apakah hal ini akan menguatkan keimanan Anda, ataukah malah melunturkannya? Atau Anda akan menjawab, “Situasi ini akan menjadikan saya semakin toleran terhadap keyakinan orang lain.” Atau ada situasi yang mungkin ekstrem, bahwa orang yang ada di sekitar akan Anda cap sebagai musuh. Dengan kata lain, Anda hidup diantara kepungan musuh dan bersiap untuk meloloskan diri dengan cara apapun. Merekalah orang-orang yang siap Anda basmi, atau Anda yang dibasmi.

Ini memang pilihan yang esktrem. Akan tetapi ini ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan sebelumnya, tentang identitas. Masing-masing dari kita punya apa yang disebut Maalouf sebagai Mr Hyde. Niat jahat. Sebagai manusia, kata Maalouf, yang bisa kita lakukan hanyalah

menjaga agar Mr Hyde yang ada dalam diri kita tidak keluar. Mr Hyde itu monster yang menakutkan. Benar-benar menakutkan, sehingga apabila ia muncul maka identitas kebanggaan diri seseorang akan mengalahkan identitas orang lain.

 

“Agama itu keyakinan, bukan sekedar pemberian. Jika itu pemberian, maka Tuhan bisa dikatakan tidak adil, karena menjadikan agama kita berbeda, karena orang tua yang memilihkan kita untuk itu.“

“Identitas lebih dari itu. Ia memerlukan pemikiran yang menjauh daripada segepok dokumen yang bisa dengan mudah Anda dapatkan di kantor Kelurahan.“ 

 

Pilihan memang senantiasa berada di diri Anda, terutama untuk memahami siapa diri Anda sebenarnya. Ini persoalan yang kemudian disebut-sebut sebagai; identitas. Ini cukup memusingkan. Memang, identitas tidak hanya sebuah dokumen yang melekat dalam KTP, paspor atau surat nikah. Identitas lebih dari itu. Ia memerlukan pemikiran yang menjauh daripada segepok dokumen yang bisa dengan mudah Anda dapatkan di kantor Kelurahan. Identitas, bagaimanapun juga sebenarnya tidak bisa diklaim secara sepihak. Tetapi hal ini seringkali sulit untuk dibuktikan. Ranahnya terkadang begitu privat. Dengan kata lain; yang akan bisa mengerti siapa kita sebenarnya adalah diri kita sendiri.

Orang lain mengenal kita lewat profesi, bahkan terkadang lewat agama yang kita yakini. Jika profesi kita adalah dokter, maka orang lain menganggap kita sebagai dokter. Jika kita tukang becak dan petani, maka orang lain menganggap kita sebagai tukang becak yang nongkrong mencari penumpang, dan petani yang kerjanya selalu berada di sawah. Identitas selalu dikaitkan dengan profesi, padahal sebenarnya itu tidaklah tepat. Identitas itu akan menempel selama kita hidup. Sementara, dokter, tukang becak dan petani akan hilang begitu kita beralih ke profesi yang lain.

Identitas tak bisa berganti, karena ia menjadi pandangan hidup dan bahkan keyakinan. Dijadikan landasan untuk berperilaku. Dasarnya adalah pengalaman. Pengalaman yang bersandar dari kepingankepingan pelajaran masa lalu dan membentuk pemikiran. Ini yang membuat sulit untuk mengatakan seperti apa identitas itu. Namun yang jelas, hasil akhirnya adalah pemikiran atau sikap kita terhadap sesuatu. Dalam tahap inilah, identitas akan selalu berhubungan dengan banyak orang. Termasuk di dalamnya adalah persoalan agama.

Meskipun awalnya ada dalam ranah privat, ihwal identitas ini semakin memperlebar jarak pandang kita bahwasanya hidup manusia tidaklah bisa berdiri sendiri. Ada pertautan yang terkadang tidak kita sadari. Itu seperti mengalir begitu saja, layaknya hamparan air pada sebuah sungai. Terjadi begitu saja dan entah mengapa, ada saatnya air sungai ini bertemu dalam sebuah muara besar yang dinamakan; laut. Begitu kita memposisikan diri sebagai seseorang, maka kita tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. Begitulah identitas, selalu saja dibarengi oleh kerja orang lain. Bahkan bisa jadi, siapa kita ini, bukan lantaran kita yang membuatnya menjadi begini, tetapi lebih karena adanya campur tangan orang lain.

Ketika seseorang mendefinisikan dirinya sebagai penulis misalnya, ia tak akan bisa berbuat banyak apabila tak ada orang yang membaca tulisannya. Seorang pemimpin tak akan berarti apabila tidak ada rakyat yang mau mengakuinya sebagai pemimpin. Identitas, selain terbentuk dengan sendirinya, ternyata ia juga dibentuk karena faktor manusia lain. Jadinya, identitas selain jamak dan terpengaruh budaya dan lingkungan lain, ternyata juga terpengaruh oleh persepsi orang lain terhadapnya. Artinya, sungguh salah memang, apabila kita mendefiniskan bahwa identitas hanya berdasar pada dokumen-dokumen tertentu.

Segepok dokumen bisa menipu, apalagi di negeri ini. Akan tetapi kesadaran bahwa identitas terbentuk melalui rangkaian yang panjang dan diisi oleh berbagai pengaruh, menjadikan seseorang lebih bijak dalam memahami makna perbedaan. Akhirnya memang ini menjadi jalan tengah yang saya rasa wajar. Manusia tak berbeda satu sama lain, meski ia berlainan secara suku, agama dan ras. Sebagai sebuah identitas, manusia adalah jelmaaan daripada persepsi, lingkungan dan budaya yang dibawa oleh orang lain.

Agama adalah bagian dari itu semua. Bagian dari identitas seseorang, sebab ia dibentuk oleh pengalaman. Awalnya dipilihkan oleh orang tua, akan tetapi semakin kita dewasa dan bergaul dengan banyak orang, maka kita akan bisa memilih untuk melihat kembali agama kita tersebut. Pilihan ada di tangan kita, apakah akan meneruskan agama yang diwariskan oleh orang tua, ataukah akan berpindah kepada keyakinan yang lain. Ini semua butuh kepekaan dan kebijakan dalam memahami kehidupan.

 

Sumber:
Majalah  ISLAM BERGERAK Edisi 4 - Oktober 2012
Penerbit : Pusham UII

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
14 Agustus 2017

Oleh: Despan Heryansyah

 (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK))

 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada perbaikan kuantitas menulis dari para penulis Indonesia pasca reformasi tahun 1998. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimanapun layak mendapatkan apresiasi. Perjuangan keras dan panjang para aktivis HAM, membuahkan hasil yang kita semua dapat memetiknya lalu menikmatinya. Tak terbayang bagaimana sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka, yang dihargai, dihormati bahkan dipuja di negeri orang, tapi diburu, dipenjara, dan diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri sendiri. Itu semua adalah harga mahal atas apa yang dapat kita nikmati hari ini. Kita barangkali beruntung karena terlahir pada era dimana menulis apapun, dimanapun, dan kapanpun sudah tidak menjadi persoalan. Namun disadari atau tidak, kondisi itu berdampak simetris dengan kualitas tulisan yang kita buat.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.