CATATAN PINGGIR
04 November 2009
Horeee Aku jadi Menteri!
 


Oleh: Eko Prasetyo
Penguasa yang terburuk bukan yang suka memukul
Melainkan yang mengharuskanmu memukul diri sendiri
(Amin Maalouf, Cadas Tanios)

Akhirnya aku bisa jadi menteri. Posisi yang dulu kuidam-idamkan. Tak main-main profesi ini. Kemana-mana aku akan dikawal. Dari pulpen hingga tas akan ada yang membawa. Komentarku pasti dikutip. Jangankan komentar cara jalanku saja akan disorot oleh kamera. Waktu ditest pertama kali kilatan kamera menyambar mukaku. Itu sebabnya aku tersenyum, tertawa dan melambaikan tangan. Sebuah perilaku seragam yang harus dipunyai pejabat. Walau kesusahan menyapa rakyat tapi jangan sampai pejabatnya tampak susah. Pejabat harus tampil sebaik mungkin: tangan melambai, senyum ramah dan busana bagus. Jika demikian dalam lima tahun mendatang aku ingin menunaikan apa yang menjadi mimpiku selama ini.
Pertama aku akan mengangkat semua kawan-kawan baikku menjadi staf penting. Terutama mereka yang loyal, setia dan setuju dengan semua gaya hidupku. Inilah saat untuk membalas budi dan menciptakan hutang budi. Tiap teman akan mendapat jatah sesuai dengan kadar loyalitas. Yang paling loyal akan memperoleh pos terpenting. Sedang yang lain akan mendapat kedudukan sesuai kepentingan. Minimal tiga kepentinganku selama menjabat, yakni mempertahankan posisi, lalu mencari jaringan dana dan yang paling pungkas, menaklukkan semua musuh dengan wewenang yang kumiliki. Singkatnya dengan menjadi menteri aku dibiasakan untuk ‘membeli dan membayar’ semua bentuk loyalitas.
Kedua aku akan membina hubungan sebaik mungkin dengan media. Tiap program harus ditayangkan oleh media. Sengaja aku akan iklankan semua program-programku. Tak ada program tanpa iklan. Malahan iklan musti mendahului program. Pertimbanganku sepele, rakyat butuh dipuaskan mimpi-mimpinya. Ingin keadilan bukan dengan menangkap bandit tapi membuat tayangan ‘seakan-akan’ hukum itu berjalan adil. Persisnya bikin program sama halnya dengan membuat naskah drama. Harus ada aktor, skenario dan adegan-adegan dramatik. Itu sebabnya yang kulakukan secepatnya adalah segera mungkin untuk mencari pembuat iklan yang berbakat. Aku berencana membuat iklan yang membuat tiap penontonya terpesona: silau oleh tayanganya hingga percaya bahwa akulah menteri yang pertama dalam sejarah mampu memuaskan kebutuhan mereka.
Ketiga aku akan berhubungan sebaik mungkin dengan parlemen. Maklum kedudukanku sangat tergantung pada respon mereka. Modal berhubungan dengan mereka, hanya satu: duit! Sebanyak-banyaknya harus kukantongi uang untuk memuluskan semua program. Dengan bermurah hati akan aku bagikan uang itu untuk mereka. Berbekal uang itulah aku yakin akan mampu bertahan dari badai apapun. Aku ingat bagaimana menteri perhubungan yang tak pernah dimintai pertanggung-jawaban. Padahal banyak terjadi kecelakaan yang menerbangkan nyawa ratusan orang. Harusnya menteri diganti tapi malahan naik jabatan. Berkaca pengalaman seperti itulah kuyakin bukan keputusan politik yang hebat dan bernyali, tapi bagaimana membuat ‘nyaman-kenyang-aman’ tiap anggota parlemen. Terutama yang berhubungan dengan ketua komisi, wakil ketua dan anggotanya. Pokoknya aku akan angkat staf khusus yang tugasnya ‘memperhatikan’ kebutuhan mereka. Kebutuhan dirinya, anak istrinya dan terutama partainya.
Keempat aku musti harus siap terjun jika ada masalah. Terjun itu artinya aku akan selalu ada, disorot kamera dan kalau perlu datang lebih awal. Jika ada musibah maka aku harus bisa tampil lebih dulu. Kalau perlu tangisku musti didengar, simpatiku harus menular dan secara spontan bantuan kuberikan. Dengan begitu aku akan tampak menjadi menteri yang manusiawi, punya rasa belas kasihan dan naluri kepekaan. Rakyat butuh dan merindukan sosok semacam itu, karena memang figur yang hebat bukan untuk dihidupkan melainkan ditayangkan. Ringkasnya aku musti tampilkan diriku sebaik mungkin dan pada saat ini banyak kesempatan untuk menampilkan itu. Musibah adalah panggung raksasa yang bisa merekam semua adegan keprihatinan. Musibah adalah tiket cepat untuk mengail simpati sekaligus popularitas.
Kelima aku harus memiliki hubungan mendalam dengan para cukong. Mereka yang bermasalah tapi banyak uangnya. Karena sekarang sedikit-demi sedikit kena tuduhan korupsi maka kuingin agar hubungan itu ‘dilindungi dan sangat rahasia’. Peran mereka besar dan kompleks. Mereka lah yang bisa menjadi kasir dari berbagai kebutuhan programku. Tak perlu mereka dicari tapi kedudukanku menjadi magnet bagi mereka. Diam-diam mereka akan mendekat, menanyakan rekening dan pasti mereka akan mengongkosi semua keperluanku. Mungkin pertama aku akan menolaknya halus. Penolakan itu hanya cara untuk menaikkan posisi tawar: kalau hargaku tak semurah yang mereka duga. Lalu aku akan meminta mereka untuk bertemu dengan orang-orang dekatku. Aku tak mau berhubungan langsung kecuali jika mereka menjadi penyumbang terbesar. Singkatnya aku menginginkan hubungan yang menguntungkan tapi tidak membahayakan kedudukanku.
Akhirnya tercapai sudahlah keinginanku. Kini ada perumahan yang bisa kutempati dengan nyaman. Soal kekayaan tak begitu kupedulikan. Sebelum jadi menteri perusahaanku dimana-mana. Sebelum jadi menteri memang hartaku berlimpah. Kini setelah dinobatkan jadi menteri aku lebih bisa mencari rezeki lain. Rezeki itu namanya pengaruh, reputasi dan nama baik. Pengaruh terdapat dalam keputusan politik apapun yang akan mempengaruhi pundi-pundi yang ada di kantongku. Lihat saja aku akan punya harta bertambah dan berlipat menjelang akhir jabatan. Bukan hanya di kantongku tapi di partaiku. Yang kedua soal reputasi aku menginginkan capaian yang biasa-biasa saja. Aku tak ingin hebat, pintar dan punya jasa gemilang. Apalagi pengalaman yang lalu, dimana seorang menteri bernyali tak panjang jabatanya. Dirinya mengkritik Amerika bahkan menuduhnya terlibat jual beli virus. Populer sering mengisi seminar mahasiswa tapi konsekuensinya ia tak menjabat  lama. Pokoknya reputasiku jangan sampai menyaingi popularitas tuan Presiden.
Kini waktunya aku memberi ucapan terimakasih. Pertama pada partaiku yang begitu energik mencalonkan diriku. Melalui jasa partai-lah aku menjadi dikenal, populer dan duduk sebagai menteri. Karena peran mereka maka aku akan menjadi kasir sekaligus juru bayar atas semua keperluan partai. Keperluan utamanya adalah mengasuh kader, memperbanyak pendukung dan mempersiapkan kemenangan untuk pemilu berikutnya. Kalau perlu aku harus menjadi ketua umum partai. Kedua pada orang-orang yang selama ini membuat aku terpilih. Mereka bisa siapa saja: wartawan, orang terdekat presiden, kawan partai atau reporter televisi. Jasa besar orang-orang ini yang pantas diberikan terimakasih. Ketiga terimakasihku pada teman-teman lembaga riset, survai atau apa saja yang membuat kemenangan politik jadi bukan tebakan lagi. Sejak mereka katakan, tuan Presiden akan menang pemilu: keputusanku bulat, mendukungnya secara penuh. Merekalah sebenarnya  paranormal yang sesungguhnya: ucapan dan pernyataan mereka jadi arah keputusan politiku.
Kini aku mau segera menunaikan tugas, sebagai menteri yang akan melakukan pekerjaan: rapat, pidato dan peresmian. Rapat harus sesering mungkin diliput oleh media. Biarkan mereka ikut rapat terus-menerus. Dalam rapat aku akan buka dengan doa, lalu ucapan selamat ulang tahun untuk stafku jika ada yang ulang tahun hari itu, lalu memberi penjelasan, lalu instruksi, lalu bincang-bincang lalu doa penutup. Akan kubuat rapat itu kegiatan paling sering dilakukan: bisa pagi hari sekali atau berakhir hingga tengah malam. Ringkasnya, biarkan media memberi tahu kalau sebagai menteri aku bekerja terlampau keras. Sesekali aku akan olesi mataku dengan salep biar kelihatan tak bisa tidur atau tidur terlalu sedikit. Rakyat butuh tontonan seperti itu sehingga mereka percaya bahwa ‘akulah menteri terbaik pilihan mereka’!

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
13 Juni 2017

DARURAT TERORISME

Oleh: Despan Heryansyah, SHI., MH.

(Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII)

Teroris menjadi masalah bersama semua negara di dunia termasuk Indonesia, tidak melihat apakah negara maju, berkembang, bahkan tertinggal sekalipun, tak ada yang luput dari ancaman terorisme. Bom bunuh diri yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur beberapa waktu lalu (24/5) seolah menjadi tanda bahwa masalah terorisme masih menjadi ancaman utama di negeri ini. Pelaku teror masih berkeliaran dimana-mana, bahkan kota besar sekelas Jakarta sekalipun. Seruan presiden Jokowi terhadap para pelaku teror bahwa “kami tidak takut masti”, tentu berdampak positif terhadap psikologi masyarakat Indonesia, namun itu sama sekali tidak cukup untuk menyelesaikan masalah terorisme.

News
17 Juni 2017
JENEWA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengungkapkan gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), menahan lebih dari 100.000 warga Irak di kota tua Mosul.
15 Juni 2017
Dalam acara yang bertajuk “Merajut Kebersamaan, Mengikat Kebhinekaan” yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Yogyakarta pada 14 Juni 2017, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komisi Nasi
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mendatangi Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).
09 Juni 2017
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Bhayangkara Polri menggelar kampanye dan deklarasi perlindungan perempuan dan anak.